Jakarta Diterjang Hujan Lebat Seminggu: BMKG Ungkap Penyebabnya

Jakarta Dilanda Banjir Akibat Hujan Intensitas Tinggi, BMKG Ungkap Penyebabnya

Pada Senin malam (12/1/2026), Jakarta menghadapi situasi darurat akibat hujan deras yang mengguyur ibu kota sepanjang hari. Laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta mencatat, sedikitnya 63 wilayah Rukun Tetangga (RT) dan 23 ruas jalan tergenang banjir. Hingga Selasa (13/1/2026) pukul 15.00 WIB, tercatat masih ada empat wilayah RT yang bertahan dalam kondisi terendam air.

Fenomena hujan dengan intensitas tinggi yang melanda Jakarta belakangan ini tidak terjadi begitu saja. Menurut Ida Pramuwardani, Ketua Tim Kerja Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi ini dipengaruhi oleh penguatan Monsun Asia. Penguatan monsun ini secara signifikan meningkatkan suplai massa udara basah yang siap menurunkan hujan.

Lebih lanjut, Ida menjelaskan bahwa saat ini sedang terjadi peningkatan kecepatan angin yang berasal dari wilayah Laut Cina Selatan. Angin ini bergerak menuju selatan melalui Selat Karimata dan akhirnya mencapai Pulau Jawa, membawa serta kelembapan yang signifikan.

“Kondisi ini membentuk dan memperkuat pola konvergensi angin, khususnya di sepanjang Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara Barat, yang berperan penting dalam mendukung pertumbuhan awan hujan yang intensif,” ujar Ida saat dikonfirmasi pada Selasa.

Selain faktor monsun dan angin, keberadaan daerah tekanan rendah di wilayah timur Australia turut berkontribusi pada perubahan pola cuaca di Indonesia. Daerah tekanan rendah ini memicu terbentuknya sirkulasi angin siklonik. Akibatnya, aliran angin di bagian selatan Indonesia menjadi lebih dominan bergerak ke arah timur. Perubahan arah angin ini semakin memperkuat fenomena konvergensi dan perlambatan massa udara, yang menjadi prasyarat terbentuknya awan hujan tebal.

Ida merinci lebih lanjut bahwa kombinasi dari berbagai faktor meteorologis inilah yang mendukung proses gerak naik udara yang lebih kuat dan berkelanjutan. Proses ini kemudian menghasilkan hujan lebat disertai angin kencang di Jakarta dan wilayah sekitarnya.

BMKG mengingatkan bahwa kondisi cuaca ekstrem ini masih berpotensi terjadi di Jakarta. Wilayah yang paling rentan mengalami hujan lebat adalah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

“Dalam sepekan ke depan, sebagian besar wilayah Jakarta masih berpotensi hujan dengan intensitas ringan-lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang. Hujan dengan intensitas lebat berpotensi terjadi di sebagian wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur,” tegas Ida.

Menyikapi potensi cuaca ekstrem ini, BMKG mengimbau seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah antisipasi dini. Peningkatan curah hujan yang signifikan dapat memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir bandang, tanah longsor, dan genangan air yang meluas.

Data Curah Hujan Ekstrem di Jakarta Utara

Sementara itu, Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi Jakarta, Ika Agustin Ningrum, memberikan gambaran lebih spesifik mengenai dampak cuaca ekstrem pada hari Senin lalu, terutama di wilayah Jakarta Utara. Berdasarkan data pemantauan hingga pukul 13.00 WIB pada hari Senin, curah hujan ekstrem tercatat sangat tinggi di beberapa kawasan.

Kawasan Kelurahan Kamal, Jakarta Utara, melaporkan curah hujan mencapai angka luar biasa sebesar 198 mm/hari. Angka ini menunjukkan tingginya volume air yang turun dalam waktu singkat, yang menjadi penyebab utama genangan dan banjir di wilayah tersebut.

Selain Kelurahan Kamal, beberapa wilayah lain di Jakarta Utara juga mengalami curah hujan ekstrem yang signifikan, antara lain:

  • Kelurahan Koja: 186 mm/hari
  • Ancol Flusing: 178 mm/hari
  • Pintu Air Marina Ancol: 171 mm/hari
  • Rumah Pompa Waduk Pluit: 161 mm/hari

Tidak hanya di Jakarta Utara, wilayah lain di Jakarta juga mencatat curah hujan yang sangat lebat, meskipun tidak mencapai kategori ekstrem yang sama. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Kali Duri: 130 mm/hari
  • Kelurahan Sunter Jaya: 124 mm/hari
  • Rorotan: 116 mm/hari
  • Kawasan Yos Sudarso: 114 mm/hari
  • Kelapa Gading Timur: 106 mm/hari
  • Kawasan Jembatan Merah: 105 mm/hari

Data ini menegaskan betapa besarnya dampak curah hujan yang turun di Jakarta dalam kurun waktu yang relatif singkat, yang kemudian memicu berbagai permasalahan kebencanaan di lapangan. Kewaspadaan dan kesiapsiagaan dari seluruh pihak menjadi kunci untuk meminimalkan risiko yang ditimbulkan oleh fenomena cuaca ekstrem ini.

Pos terkait