Jawa Tengah Kokoh sebagai Penyangga Pangan Nasional, Lampaui Target 2025
Semarang, 31 Desember 2025 – Provinsi Jawa Tengah sekali lagi membuktikan diri sebagai pilar utama ketahanan pangan nasional. Sepanjang tahun 2025, berbagai komoditas pangan strategis di provinsi ini mencatatkan angka produktivitas yang melampaui target, menegaskan peran sentralnya sebagai penyangga pangan bagi seluruh Indonesia. Di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi, Jawa Tengah kian mengukuhkan posisinya sebagai daerah andalan pemerintah pusat dalam sektor pangan.
Data terbaru yang dirilis oleh Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah menunjukkan gambaran yang sangat positif. Produktivitas padi, komoditas pangan pokok masyarakat Indonesia, mencapai angka luar biasa sebesar 11,3 juta ton Gabah Kering Panen (GKP). Prestasi ini menempatkan Jawa Tengah berada di jajaran tiga besar nasional untuk produksi padi sepanjang tahun 2025.
Angka produktivitas yang mengesankan ini tidak terlepas dari luas lahan tanam dan panen yang optimal. Tercatat, sekitar 2,02 juta hektare lahan padi ditanami sepanjang tahun ini. Dari jumlah tersebut, seluas 1,67 juta hektare berhasil dipanen, menghasilkan gabah yang setara dengan 9,39 juta ton Gabah Kering Giling (GKG).
Namun, keunggulan Jawa Tengah tidak hanya terbatas pada padi. Komoditas jagung juga menunjukkan performa gemilang. Provinsi ini berhasil memproduksi jagung sebanyak 3,6 juta ton dari luas panen mencapai 612 ribu hektare. Angka ini menjadikan Jawa Tengah sebagai kontributor terbesar kedua untuk produksi jagung secara nasional.
Lebih membanggakan lagi, Jawa Tengah juga dinobatkan sebagai produsen kedelai terbesar di Indonesia. Produksi kedelai mencapai 17.247 ton, dihasilkan dari luas panen seluas 8.902 hektare. Keberhasilan ini menunjukkan diversifikasi dan penguatan sektor pertanian Jawa Tengah yang semakin merata.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyatakan rasa syukurnya atas pencapaian ini. Ia mengungkapkan bahwa target produksi padi yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, yaitu sebesar 11 juta ton GKP, telah berhasil dilampaui. “Capaian ini menjadi modal penting bagi kita untuk menghadapi tantangan di tahun 2026 sekaligus menjadi langkah nyata menuju swasembada pangan yang berkelanjutan,” ujar Gubernur Luthfi dalam sebuah kesempatan di Kota Semarang.
Strategi Jitu untuk Produktivitas Berkelanjutan
Untuk menjaga momentum positif ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mengambil langkah-langkah strategis sejak awal tahun 2025. Salah satu fokus utama adalah percepatan pembangunan infrastruktur pendukung pertanian di berbagai sentra produksi. Pembangunan irigasi, jalan usaha tani, dan fasilitas pascapanen terus digalakkan untuk mendukung efisiensi dan efektivitas pertanian.
Selain itu, Gubernur Luthfi juga menekankan pentingnya menjaga kelestarian lahan hijau. Upaya pencegahan alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan non-pertanian terus dilakukan secara intensif. Hal ini penting untuk memastikan ketersediaan lahan produktif bagi generasi mendatang. Penguatan kolaborasi antara pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten dan kota juga menjadi kunci dalam implementasi kebijakan pertanian yang efektif di lapangan.
Ketersediaan Pangan Terjamin Hingga Pertengahan 2026
Di sisi hilir, optimisme juga datang dari Perum Bulog Kanwil Jawa Tengah-DIY. Lembaga ini telah memastikan bahwa stok beras di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta aman hingga Juni 2026. Ketersediaan beras saat ini mencapai angka yang sangat memadai, yaitu 339.094 ton.
Pimpinan Bulog Jateng-DIY, Sri Muniati, menjelaskan bahwa realisasi pengadaan beras pada tahun 2025 telah mencapai 397.905 ton, atau setara dengan 100,3 persen dari target yang ditetapkan. “Masyarakat tidak perlu merasa cemas atau panik. Ketersediaan beras di pasaran sangat mencukupi dan harganya pun relatif stabil,” tegas Sri Muniati.
Dengan capaian luar biasa di sektor pertanian dan jaminan ketersediaan pangan yang kuat, Jawa Tengah di penghujung tahun 2025 ini semakin kokoh perannya sebagai lumbung pangan nasional. Keberhasilan ini merupakan hasil kerja keras seluruh elemen masyarakat pertanian, didukung oleh kebijakan pemerintah yang pro-pertanian dan kepemimpinan yang visioner dari Gubernur Ahmad Luthfi.





