Munggahan di Bendungan Matras: Tradisi Ramadhan yang Sarat Makna dan Sejarah
Menjelang tibanya bulan suci Ramadhan, masyarakat Pangandaran menunjukkan antusiasme yang luar biasa dalam menyambut momen penuh berkah ini. Salah satu tradisi yang kian populer adalah “munggahan,” sebuah kegiatan makan bersama keluarga sebagai ungkapan rasa syukur dan kebersamaan sebelum memulai ibadah puasa. Tahun ini, Bendungan Matras di Dusun Cikulu, Desa Sukahurip, Kecamatan Pangandaran, menjadi saksi bisu ribuan warga yang memadati kawasan tersebut pada Rabu (18/2/2026) untuk merayakan munggahan.
Suasana yang biasanya tenang di bendungan peninggalan kolonial Belanda ini mendadak berubah menjadi riuh rendah. Keluarga-keluarga tampak berdatangan membawa berbagai perlengkapan, mulai dari tikar untuk alas duduk, rantang berisi hidangan lezat, hingga termos nasi yang masih hangat. Tenda-tenda darurat sederhana pun didirikan di beberapa sudut, menambah semarak suasana. Di tepian bendungan yang berundak, mereka menggelar alas duduk, menyusun hidangan yang telah disiapkan dengan penuh kasih, lalu menikmati kebersamaan dalam balutan suasana alam yang sejuk dan asri.
Bendungan Matras, yang dulunya lebih dikenal sebagai bangunan irigasi vital peninggalan masa kolonial, kini bertransformasi menjadi destinasi wisata dadakan yang sangat diminati oleh warga lokal. Keberadaannya tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga sarat akan nilai sejarah yang mendalam. Dibangun sekitar tahun 1918 oleh pemerintah kolonial Belanda, bendungan ini memiliki fungsi historis sebagai dam irigasi yang bertugas mengatur aliran air dari Sungai Putrapinggan. Konstruksi batu yang kokoh dan berusia lebih dari satu abad masih berdiri tegak, menjadi pengingat akan jejak sejarah yang terukir di tanah Pangandaran.
Keriaan Anak-anak dan Kehangatan Keluarga
Kawasan bendungan yang airnya relatif dangkal menjadi surga bermain bagi anak-anak. Tawa riang mereka terdengar bersahutan saat asyik berenang di aliran air yang jernih. Beberapa anak terlihat begitu gembira bermain menggunakan ban pelampung, menciptakan pemandangan yang begitu menyegarkan mata. Sementara itu, para orang tua duduk bersantai di bawah rindangnya pepohonan yang tumbuh di sekitar bendungan. Mereka menikmati hidangan khas munggahan yang telah disiapkan, seperti nasi liwet yang gurih, ayam goreng renyah, sambal pedas yang menggugah selera, serta lalapan segar yang melengkapi santapan mereka.
Bagi banyak pengunjung, momen munggahan di Bendungan Matras menjadi kesempatan emas untuk mengabadikan kebersamaan melalui swafoto. Latar belakang deretan batu bendungan yang kokoh dan aliran air yang mengalir jernih menjadi spot foto yang menarik. Momen ini dimanfaatkan untuk menciptakan kenangan manis yang akan dibawa hingga Ramadhan berikutnya.
Destinasi Ramah Kantong dengan Nilai Sejarah
Alamsyah (47), seorang warga Pangandaran yang turut meramaikan tradisi munggahan di Bendungan Matras, mengungkapkan kebahagiaannya. Ia menilai bahwa Bendungan Matras menawarkan suasana yang alami, sejuk, dan yang terpenting, sangat terjangkau.
“Di sini enak, adem, murah juga. Anak-anak bisa main air, orang tua bisa kumpul bareng. Daripada jauh-jauh, ya mending di sini,” ujar Alamsyah dengan senyum lebar di sela-sela aktivitas munggahan.
Menurutnya, tradisi munggahan di Bendungan Matras merupakan alternatif wisata keluarga yang sangat ramah di kantong, terutama menjelang bulan puasa yang seringkali membutuhkan persiapan finansial ekstra. Ia mencontohkan, dengan bekal uang sekitar Rp 50 ribu dan membawa bekal makanan nasi liwet dari rumah, seluruh keluarga dapat menikmati momen munggahan dengan penuh kebahagiaan.
Selain aspek ekonomisnya, nilai sejarah yang melekat pada Bendungan Matras menjadi daya tarik tersendiri. Keberadaan bangunan tua yang telah berusia lebih dari seratus tahun dengan konstruksi yang masih kokoh memberikan dimensi edukatif bagi pengunjung, khususnya anak-anak. Mereka dapat belajar tentang sejarah lokal dan warisan masa lalu yang masih terjaga.
Bendungan Matras bukan sekadar tempat rekreasi, melainkan sebuah ruang di mana tradisi, kebersamaan, dan sejarah berpadu harmonis. Momen munggahan di lokasi ini menjadi bukti nyata bahwa kebahagiaan tidak selalu harus mahal, dan bahwa tempat-tempat bersejarah pun dapat menjadi destinasi wisata yang relevan dan dicintai oleh masyarakat modern. Tradisi ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga hubungan antar keluarga dan menghargai warisan budaya yang telah ada.






