Kepala Bakom Qodari Prihatin Amien Rais Jadi Korban Hoaks

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI Menyampaikan Kekhawatiran atas Tudingan yang Dikeluarkan oleh Amien Rais

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI, Muhammad Qodari, menyampaikan kekhawatirannya terhadap pernyataan yang dikeluarkan oleh Ketua Majelis Syuro Partai Ummat, Amien Rais. Ia menilai bahwa pernyataan Amien Rais didasarkan pada informasi yang tidak terverifikasi dan bersifat manipulatif.

Pernyataan ini merespons sebuah video yang diunggah oleh Amien Rais di akun YouTube pribadinya. Dalam video berdurasi sekitar 8 menit tersebut, Amien mengklaim bahwa Presiden Prabowo Subianto dan Sekretaris Kabinet Letnan Kolonel Teddy Indra Wijaya memiliki hubungan yang melebihi batasan profesional. Namun, video tersebut kini sudah tidak lagi tersedia di akun YouTube milik Amien Rais.

Muhammad Qodari menjelaskan bahwa tudingan yang dilayangkan Amien Rais kepada Prabowo dan Teddy dibuat berdasarkan video-video di media sosial yang tidak terverifikasi dan bersifat manipulatif. Ia menegaskan bahwa kehati-hatian dalam menyikapi konten di media sosial menjadi semakin penting.

“Saya prihatin setelah melihat video Pak Amien Rais itu. Prihatinnya adalah karena Pak Amien Rais sebagai tokoh, akademisi, dan profesor doktor telah menjadi korban dari hoaks,” ujar Qodari dalam pernyataannya.

Menurut Qodari, tuduhan terhadap Teddy muncul dari interpretasi keliru atas sebuah konten video di media sosial yang berisi lagu berjudul “Aku Bukan Teddy”. Ia menjelaskan bahwa konten tersebut disalahartikan sebagai pernyataan autentik.

“Dasar penilaian atau tudingan bahwa Pak Seskab, Pak Teddy adalah gay, berasal dari sebuah akun yang berisi lagu berjudul Aku Bukan Teddy, yang dianggap oleh Pak Amien Rais bahwa yang menyanyi itu adalah Ibu Titiek,” tambahnya.

Qodari menegaskan bahwa video tersebut tidak dapat dijadikan rujukan karena tidak autentik. Penyanyi dalam video itu bukan Titiek Soeharto, sedangkan gambar yang ditampilkan hanya kolase dari berbagai sumber yang tidak berkaitan langsung dengan isi lagu. Selain itu, konten tersebut juga mencantumkan keterangan sebagai materi hiburan, bukan fakta.

Ia juga menyebut kasus ini sebagai contoh nyata bahaya hoaks di era media sosial, termasuk yang memanfaatkan teknologi akal imitasi. Qodari mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati serta melakukan verifikasi sebelum mempercayai dan menyebarkan informasi.

“Ini contoh dari bahaya hoaks dalam medsos, bahaya dari AI, bagaimana seorang tokoh sepintar dan sesenior seperti Pak Amien Rais bisa menjadi korban hoaks. Jadi, statement dari Pak Amien Rais tentang Pak Teddy itu dasarnya hoaks,” katanya.

Tanggapan Amien Rais atas Tudingan yang Dilayangkan

Di sela Musyawarah Nasional Partai Ummat di Yogyakarta pada Sabtu malam, 2 Mei 2026, Amien Rais angkat bicara soal videonya yang viral karena menyebut adanya hubungan istimewa antara Prabowo dan Teddy.

Mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat itu berujar bahwa pernyataannya dalam video itu seharusnya dilihat sebagai bentuk kebebasan warga negara dalam berpendapat.

“Saya yakin demokrasi itu berjalan baik kalau kebebasan mengeluarkan pendapat yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar kita tidak dibatasi, tidak dibungkam,” ujarnya.

Soal tudingannya terkait hubungan Prabowo dan Teddy yang disebutnya melebihi batasan profesional, Amien mengaku punya alasan tersendiri.

“Kalau soal Teddy ini, memang saya kumpulkan dari berbagai informasi, dari YouTube maupun berbagai channel media sosial itu, saya kira hampir meyakinkan bahwa ada sesuatu yang sangat tidak biasa tentang Saudara Teddy,” kata dia.

Menurut Amien, sesuatu yang tidak biasa pada Teddy itu karena yang bersangkutan diberi porsi kekuasaan terlalu berlebihan saat ini oleh Prabowo.

“Ia hanya menempel terus ke Pak Prabowo, sampai-sampai yang menentukan tamu, siapa menteri, mana jenderal yang bisa ketemu Pak Prabowo itu si Teddy ini,” ujarnya.

Untuk itu, kata Amien, agar tak menjadi stigma buruk di masyarakat, sebaiknya Prabowo memberikan Teddy kesibukan atau posisi di tempat yang lain. Agar tidak selalu menempel Prabowo dan mengganggu pemerintahannya.

Pribadi Wicaksono berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Pos terkait