Fenomena Jasad Abu Zamroh yang Masih Utuh Setelah 26 Tahun Dimakamkan
Di Desa Candirejo, Kecamatan Pasir Penyu, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, terjadi fenomena yang mengejutkan masyarakat. Jenazah seorang warga bernama Abu Zamroh ditemukan masih utuh setelah 26 tahun dimakamkan. Peristiwa ini terjadi pada Minggu (31/5/2026) saat makamnya dipindahkan dari pemakaman lama yang berada di lereng bukit rawan longsor.
Proses pemindahan dilakukan secara gotong royong oleh warga bersama perangkat desa terhadap delapan makam yang berada di lokasi tersebut. Anak almarhum, Miyos Sarwono, mengaku terharu ketika melihat bentuk tubuh ayahnya masih terlihat jelas di balik lapisan kain kafan meski telah dimakamkan sejak tahun 2000.
“Masih terasa semua. Masih utuh, kepala, tangan, bahu, badan, siku, kaki,” kata Miyos. Kesaksian serupa juga disampaikan warga dan perangkat desa yang ikut menyaksikan proses pemindahan makam. Mereka menyebut kain kafan masih terlihat utuh dan tidak ditemukan aroma menyengat saat jenazah diangkat dari liang lahat.
Fenomena itu kemudian menyebar luas di media sosial dan menjadi perbincangan masyarakat hingga menarik perhatian berbagai tokoh, termasuk Ustaz Abdul Somad (UAS). Dalam keterangan di sebuah video, UAS mengaku mengetahui kabar tersebut setelah menerima foto dan informasi dari tokoh masyarakat di Airmolek, Inhu, Haji Harpen Arsadi.
“Saya dikirimi gambar oleh Haji Harpen tentang jasad yang sudah 26 tahun meninggal dunia di Inhu yang tetap utuh, tidak dimakan tanah,” ujar UAS. Menanggapi fenomena tersebut, UAS mengutip hadis sahih yang menjelaskan bahwa Allah mengharamkan tanah memakan jasad para nabi.
“Sesungguhnya sholawat kamu akan diperlihatkan kepadaku, kata Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Lalu sahabat bertanya, bagaimana mungkin sholawat kami dibawa kepadamu sementara engkau sudah meninggal dunia. Lalu Nabi menjawab, Allah mengharamkan tanah memakan jasad para nabi,” jelasnya. Menurut UAS, hadis tersebut menjadi dalil bahwa jasad para nabi tidak dimakan tanah meski telah lama wafat.
Ia kemudian menyinggung berbagai fenomena serupa yang pernah terjadi pada sejumlah ulama dan orang-orang saleh ketika makam mereka dibuka kembali. “Lalu bagaimana dengan fenomena ulama yang tidak dimakan tanah ketika terjadi penggalian makam? Maka ulama adalah pewaris para nabi. Ulama-ulama yang mengamalkan ilmunya, maka mereka juga dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala seperti jasad nabi yang tidak dimakan tanah,” katanya.
UAS menjelaskan, para ulama juga menerangkan bahwa tidak hanya nabi, namun sebagian hamba Allah yang mendapatkan kemuliaan khusus dapat diberikan tanda-tanda tertentu setelah wafat. “Kemudian ulama berkata, adapun orang-orang yang jujur, orang-orang yang benar, para ulama dan mati syahid, ada yang tidak dimakan tanah sebagai bentuk kemuliaan. Allah ingin menunjukkan itu,” ujarnya.
Menurut UAS, masyarakat hendaknya tidak hanya terpaku pada keajaiban yang terlihat, tetapi mengambil hikmah dari peristiwa tersebut. “Mudah-mudahan kita dapat mengambil pelajaran. Cukuplah kematian sebagai nasihat,” katanya. Ia menilai kemunculan fenomena seperti ini di tengah kehidupan masyarakat modern dapat menjadi pengingat akan kebesaran Allah dan kebenaran ajaran agama.
“Di akhir zaman fitnah yang luar biasa, hikmah yang kita ambil bahwa masih ada bukti-bukti kebenaran. Allah ingin menunjukkan di akhir zaman,” ujarnya. UAS berharap peristiwa tersebut dapat semakin menguatkan keimanan umat Islam. “Mudah-mudahan kita semakin baik, semakin saleh, semakin yakin kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” tuturnya.





