Tragedi Kereta Api di Bekasi: Evakuasi Dramatis dan Korban yang Terlakar
Pada malam hari Senin (27/4/2026), terjadi kecelakaan maut antara Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line tujuan Cikarang. Insiden tersebut terjadi di wilayah Bekasi, mengakibatkan tujuh orang meninggal dunia dan 81 penumpang lainnya luka-luka.
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, mengonfirmasi adanya kecelakaan maut ini. Ia menjelaskan bahwa tim dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) sedang berjuang untuk melakukan evakuasi para korban. Proses evakuasi dilakukan secara hati-hati karena kondisi kereta yang rusak parah.
Evakuasi memakan waktu sekitar delapan jam. Tim Basarnas berhasil mengeluarkan penumpang satu per satu dari gerbong kereta yang hancur. Bobby menyampaikan bahwa hingga pukul 06.35 WIB, jumlah total korban telah diketahui sebagai berikut:
- Korban meninggal: 7 orang
- Korban luka-luka: 81 orang
- Korban yang masih terperangkap: 3 orang
Evakuasi pada rangkaian kereta Argo Bromo Anggrek telah selesai dilakukan. Seluruh penumpang KAJJ Argo Bromo Anggrek sudah diturunkan dan gerbong kereta telah dikosongkan. Namun, Tim Basarnas masih melanjutkan proses evakuasi pada bagian lokomotif.
Evakuasi tersebut dibantu oleh tim penyelamat guna memastikan keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Bobby menjelaskan bahwa pihaknya siap melakukan evakuasi dari lokomotif yang ada pada kereta tersebut. Koordinasi dengan Basarnas dilakukan untuk mempertimbangkan aspek kehati-hatian dan keselamatan korban yang masih terjebak dalam kereta.
Jalur Kembali Dibuka, Tapi Masih Ada Pembatasan Layanan
Hingga saat ini, jalur hilir telah kembali dibuka untuk operasional kereta api. Namun, masih terdapat pembatasan layanan di sejumlah titik akibat dampak dari kecelakaan tersebut.
“Jalur hilir sudah dibuka untuk operasional kereta, walaupun untuk naik dan turun penumpang di Stasiun Bekasi Timur belum bisa kami operasikan sepenuhnya. Sementara ini operasional dibatasi sampai Stasiun Bekasi,” tambah Bobby.
Pembukaan jalur secara bertahap dilakukan guna menjaga kelancaran perjalanan kereta api sekaligus memastikan keamanan penumpang selama proses pemulihan berlangsung.
Gerbong KRL Khusus Perempuan Rusak Parah
Gerbong penumpang KRL khusus perempuan terlihat mengalami kerusakan parah akibat benturan. Petugas menggunakan peralatan khusus untuk membuka akses menuju bagian dalam kereta agar bisa menjangkau penumpang yang masih terjebak dalam gerbong.
Penumpang yang berhasil dievakuasi diarahkan menuju peron-peron stasiun. Mereka tampak duduk berkelompok sambil menunggu informasi lebih lanjut, sebagian terlihat masih syok akibat kejadian tersebut. Sejumlah petugas medis juga terlihat memberikan penanganan awal ke penumpang yang mengalami luka-luka ringan hingga sedang.
Ambulans hilir mudik di sekitar lokasi untuk membawa korban ke rumah sakit terdekat. Hingga saat ini, proses evakuasi masih terus berlangsung dan belum ada keterangan resmi terkait kronologi lengkap kejadian.
Pengalaman Saksi Mata
Sementara itu, seorang saksi mata sekaligus penumpang selamat, Munir, mengisahkan detik-detik mengerikan saat moncong lokomotif Argo Bromo menghantam kereta yang ia tumpangi. Menurutnya, KRL yang ia tumpangi sedang berhenti darurat karena ada kecelakaan taksi di jalur depan.
“Tiba-tiba dihantam keras dari belakang. Lokomotif kereta jarak jauh itu sampai menembus masuk ke gerbong. Gerbong khusus perempuan hancur lebur,” ujar Munir dengan nada bergetar.
Pantauan di lokasi menunjukkan petugas gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, hingga Damkar harus berjuang ekstra keras. Banyak penumpang ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri, bukan hanya karena benturan fisik, tetapi juga akibat sesak napas lantaran ruang udara yang menyempit di dalam gerbong yang hancur.






