Masjid Nusantara Watu Sanggar: Perpaduan Unik Arsitektur Jawa Kuno dan Fungsi Ibadah Modern
Di tengah lanskap perbukitan Desa Mangunegara, Kecamatan Mrebet, Purbalingga, Jawa Tengah, berdiri sebuah bangunan ibadah yang mencuri perhatian. Sekilas pandang, Masjid Nusantara Watu Sanggar ini justru lebih menyerupai candi kuno daripada sebuah masjid pada umumnya. Dominasi warna gelap pada eksterior, bentuk atap yang menyerupai stupa, serta keberadaan ornamen gunungan wayang, adalah elemen-elemen yang seketika membuatnya viral di berbagai platform media sosial. Masjid yang berlokasi di Desa Mangunegara RT 7 RW 2, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga ini, hadir sebagai representasi unik dari perpaduan budaya dan spiritualitas.
Amir Pranoto, seorang takmir Masjid Nusantara Watu Sanggar, mengungkapkan bahwa gagasan pembangunan masjid ini berawal dari niat sederhana untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. “Latar belakangnya hanya ingin membangun sesuatu yang lebih bermanfaat untuk masyarakat sekitar dan masyarakat umum, khususnya Purbalingga dan sekitarnya,” jelasnya. Namun, visi di balik pembangunan masjid ini tidak hanya terbatas pada fungsi ibadah semata, melainkan juga mengusung konsep desain yang berbeda dan sarat makna.
Inspirasi Budaya Jawa dalam Desain Arsitektur
Konsep desain Masjid Nusantara Watu Sanggar terinspirasi kuat dari kekayaan budaya Jawa. Amir Pranoto menjelaskan bahwa keinginan untuk menciptakan sesuatu yang berbeda dan mengandung unsur budaya lokal menjadi pendorong utama. “Kita ini orang Islam dari suku Jawa, jadi ingin membuat sesuatu yang sesuai dengan budaya Jawa,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa di wilayah Mrebet sendiri sudah terdapat masjid dengan nuansa budaya Tionghoa. Oleh karena itu, pihaknya ingin menghadirkan sebuah masjid yang memiliki identitas kuat dengan budaya Jawa.
“Dari pola pikir itu, kami membangun masjid yang mirip candi sebagai simbol budaya Jawa kuno,” terangnya. Kesan kejawaan memang sangat terasa di berbagai sudut bangunan. Salah satu elemen yang paling menonjol adalah ornamen gunungan wayang yang ditempatkan sebagai simbol sumber kehidupan. Kubah utama masjid didesain menyerupai stupa, sebuah bentuk yang lazim ditemukan pada bangunan keagamaan Buddha kuno, namun di sini diadaptasi untuk merepresentasikan identitas Jawa. Sementara itu, bagian teras dirancang menyerupai struktur candi, memperkuat kesan bangunan kuno yang sakral.
“Bentuknya memang banyak yang bilang seperti Borobudur atau Prambanan. Tapi prinsipnya kami mengadopsi budaya lokal Jawa itu sendiri,” tegas Amir. Ia menekankan bahwa inspirasi utamanya adalah budaya Jawa itu sendiri, bukan sekadar meniru bangunan candi tertentu.
Filosofi Angka dan Simbol dalam Setiap Detail
Keunikan Masjid Nusantara Watu Sanggar tidak hanya terletak pada bentuk fisiknya, tetapi juga pada filosofi angka dan simbol yang terkandung dalam setiap detailnya. Jumlah ornamen yang dipilih memiliki makna mendalam. Terdapat 25 gunungan wayang yang melambangkan 25 nabi dan rasul dalam ajaran Islam.
Kubah utama yang berbentuk stupa berjumlah sembilan, sebuah angka yang sangat identik dengan Wali Songo, sembilan tokoh penyebar agama Islam di tanah Jawa. Sementara itu, terdapat pula lima kubah kecil yang melambangkan lima Rukun Islam. Filosofi lainnya tercermin pada desain teras yang bertingkat. “Untuk terasnya bertingkat, itu sebagai wujud kehidupan dari tingkat ke tingkat,” imbuh Amir.
Transisi dari Eksterior Gelap ke Interior Terang dan Elegan
Meskipun bagian luar masjid didominasi oleh warna-warna gelap yang sekilas dapat memberikan kesan angker, suasana yang disajikan saat memasuki bagian dalam justru sangat berbeda. Interior masjid mengusung konsep modern klasik, memadukan keanggunan masa lalu dengan kenyamanan masa kini. Pencahayaan yang terang benderang dan nuansa elegan menciptakan atmosfer yang khidmat dan nyaman bagi para jemaah.
“Kalau di luar kesannya hitam dan angker. Tapi kalau masuk ke dalam, cerah, terang, dan elegan,” ujar Amir, menggambarkan kontras yang disajikan oleh desain masjid ini. Perbedaan nuansa antara eksterior dan interior ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Fungsi Ibadah dan Penegasan Status Non-Wisata
Saat ini, Masjid Nusantara Watu Sanggar telah mulai difungsikan untuk kegiatan ibadah sehari-hari. Rencananya, peresmian masjid ini akan dilaksanakan pada tanggal 7 Maret 2026 mendatang. Acara peresmian tersebut dijadwalkan akan dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional dan pejabat daerah, termasuk Ketua MPR RI dan Gubernur Jawa Tengah.
Meskipun berlokasi di kawasan yang berdekatan dengan area wisata, Amir Pranoto menegaskan bahwa masjid ini bukanlah tempat wisata. “Masjid ini bukan wisata. Ini untuk umum, siapa saja yang ingin salat dan beribadah silakan. Tidak ada kaitannya dengan wisata, walaupun lingkungannya berada di kawasan wisata,” tegasnya. Penegasan ini penting untuk menjaga fungsi utama masjid sebagai tempat ibadah, bukan sebagai objek rekreasi semata.
Keunikan desain masjid ini memang telah berhasil menarik perhatian banyak orang, termasuk Waluyo, salah seorang pengunjung yang awalnya hanya berniat untuk berjalan-jalan bersama istrinya. Rasa penasaran setelah melihat unggahan masjid tersebut di Instagram membuatnya memutuskan untuk mampir. “Unik lah modelnya begini, suasananya lain dan bentuknya berbeda. Saya tahu dari Instagram, ternyata bagus dan penasaran sekalian salat di sini. Kalau candi biasanya tempat ibadah orang Hindu, tapi ini juga bisa menjadi seni dalam Islam,” ucapnya, menggambarkan kekagumannya terhadap perpaduan arsitektur dan fungsi ibadah yang ditawarkan oleh Masjid Nusantara Watu Sanggar.





