Mathias Muchus Bocorkan Alasan Pilih Film ‘The Bell: Panggilan untuk Mati’ di Belitung



Aktor ternama Mathias Muchus kembali terlibat dalam proyek film horor berjudul The Bell: Panggilan untuk Mati. Dalam film ini, ia memerankan tokoh bernama Tuk Baharun yang memiliki peran penting dalam alur cerita. Film yang sedang dalam proses produksi ini menggabungkan elemen horor dengan nuansa lokal yang kaya akan budaya dan alam.

Syuting film tersebut dilakukan di Belitung, sebuah daerah yang dikenal dengan keindahan alamnya serta kekayaan budaya lokal. Lokasi ini dipilih karena mampu menciptakan suasana yang sesuai dengan tema film yang ingin disampaikan. Penggunaan lokasi luar Jakarta juga menjadi bagian dari strategi pembuat film untuk memberikan kesan autentik dan mendalami narasi yang ditawarkan.

Mathias Muchus mengungkapkan bahwa keterlibatannya dalam proyek ini sejalan dengan kebiasaannya selama beberapa tahun terakhir. Ia lebih sering mengambil peran dalam film yang diproduksi di luar Jakarta. Menurutnya, pilihan ini telah menjadi pola yang konsisten dalam karier aktornya.

“Saya selalu mengambil proyek film di luar Jakarta, terutama di daerah-daerah,” ujar Mathias saat berada di Kuningan, Jakarta Selatan pada Senin (27/4/2026).

Ia juga menyampaikan pengalamannya dalam dunia perfilman Indonesia selama beberapa dekade. Dari pengalaman itu, ia melihat perkembangan industri film yang semakin merata di berbagai wilayah. Mathias berharap agar para pelaku perfilman daerah bisa memiliki kesempatan yang setara dalam produksi film nasional.

“Saya ingin orang-orang dari daerah bisa punya kesetaraan dalam produksi film. Saya sendiri berupaya ikut terlibat dalam produksi lokal,” jelasnya.

Mathias mengungkapkan bahwa ia pernah bekerja di berbagai kota seperti Banjarmasin, Makassar, Bali, Jogja, Bangka Belitung, dan Medan. Setiap lokasi menawarkan pengalaman unik yang membantu memperkaya hasil karyanya.

“Setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri. Saya merasa bisa memberikan kontribusi yang bermakna lewat pekerjaan saya di sana,” tambahnya.

Menurutnya, kehadiran aktor dari Jakarta dapat memberikan warna baru dalam produksi film daerah. Hal ini dinilai mampu memotivasi para pelaku lokal untuk terus berkarya.

“Adanya aktor Jakarta di lokasi syuting membuat mereka lebih semangat dan percaya diri. Itu bisa menjadi dorongan bagi industri lokal,” katanya.

Mathias menilai perkembangan film di daerah kini semakin menarik untuk diamati. Banyak potensi yang bisa dikembangkan dari berbagai wilayah di Indonesia. Ia berharap produksi film nasional tidak hanya fokus pada Jakarta, tetapi juga berkembang secara merata.

“Produksi film dari Jogja, Semarang, Surabaya, atau Bangka Belitung juga sangat menarik. Ini membuat industri perfilman kita lebih beragam dan kaya,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda dalam produksi film. Hal ini membuat hasil karya menjadi lebih variatif dan kaya akan nuansa lokal.

“Keragaman lokal harus terlihat dari hasil film kita setiap tahunnya. Saya ingin itu terus berlanjut,” pungkasnya.

Pos terkait