Prancis Tumbang dari Pantai Gading: Alarm Kesiapan Menjelang Piala Dunia 2026
Pertandingan persahabatan yang seharusnya menjadi ajang pemanasan dan uji coba strategis bagi tim nasional Prancis menjelang Piala Dunia 2026, justru berujung pada kekalahan mengejutkan. Bertandang ke Stadion Beaujoire, Louis Fonteneau, Nantes, Prancis, pada Jumat (5/6/2025), tim berjuluk Ayam Jantan ini harus mengakui keunggulan Pantai Gading dengan skor akhir 1-2. Kekalahan ini mengakhiri rentetan empat kemenangan beruntun yang sempat diraih Prancis, sekaligus menjadi sebuah peringatan keras bagi Didier Deschamps dan anak asuhnya.
Sebelum menghadapi Pantai Gading, Prancis menunjukkan performa yang impresif dengan meraup empat kemenangan berturut-turut. Kemenangan tersebut diraih atas tim-tim seperti Ukraina, Azerbaijan, Brasil, dan Kolombia, yang semakin memupuk kepercayaan diri tim jelang turnamen akbar yang akan dimulai pada 12 Juni waktu Indonesia. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain.
Dalam pertandingan yang berlangsung di tengah sorotan publik dan ekspektasi tinggi, Prancis justru tertinggal lebih dulu. Gol pembuka dicetak oleh Rayan Cherki melalui aksi individu cemerlang di penghujung babak pertama, tepatnya pada menit ke-45. Gol ini sempat membawa Prancis unggul dan optimisme untuk melanjutkan tren positif.
Namun, babak kedua menjadi cerita yang berbeda. Pantai Gading bangkit dan menunjukkan semangat juang yang luar biasa. Guela Doue berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke-53, membuyarkan keunggulan Prancis. Pukulan telak datang menjelang akhir pertandingan, ketika Amat Diallo mencetak gol kemenangan pada menit ke-84, memastikan Pantai Gading keluar sebagai pemenang.
Duel Kakak Beradik di Lapangan
Menariknya, pertandingan ini juga menjadi saksi duel emosional antara dua kakak beradik. Guela Doue tampil membela Pantai Gading, sementara adiknya, Desire Doue, berada di kubu tim nasional Prancis. Meskipun bermain untuk negara yang berbeda, momen ini tentu memiliki makna tersendiri bagi keluarga Doue.
Penilaian Tim: Fokus pada Persiapan, Bukan Hasil Akhir
Meskipun menelan kekalahan, kubu Prancis berusaha meredam kekhawatiran yang muncul. Pelatih Didier Deschamps menjelaskan bahwa hasil pertandingan ini harus dilihat dalam konteks persiapan tim yang sedang berjalan. Ia mengakui telah melakukan banyak pergantian pemain untuk mengevaluasi kedalaman skuad dan memastikan kesiapan seluruh pemainnya.
Gelandang Prancis, Aurelien Tchouameni, yang turut berkontribusi pada terciptanya gol pertama Pantai Gading akibat sebuah blunder, menyatakan bahwa kekalahan ini bukanlah akhir dari segalanya. “Sangat disayangkan kalah, tetapi kami sedang dalam fase persiapan, kami tetap percaya diri,” ujar Tchouameni usai pertandingan. Ia menambahkan, “Tidak ada kesimpulan yang bisa ditarik dari pertandingan ini, bahkan jika kami memenangkannya. Kami akan siap.”
Deschamps memang sengaja melakukan eksperimen dan mengistirahatkan sejumlah pemain pilar utamanya. Keputusan ini diambil terutama bagi pemain yang baru saja menyelesaikan laga final Liga Champions pada akhir pekan sebelumnya. Nama-nama seperti William Saliba, Ousmane Dembélé, dan beberapa pemain kunci lainnya hanya menghiasi bangku cadangan, tidak diturunkan sejak awal. Hanya Barcola yang sempat dimainkan di penghujung babak kedua. Total, Deschamps melakukan sepuluh pergantian pemain di paruh kedua pertandingan.
Bek Prancis, Lucas Hernandez, juga sejalan dengan pandangan Deschamps. Ia menegaskan bahwa fokus utama adalah proses persiapan dan evaluasi. “Kami selalu ingin menang, tetapi kami sedang dalam fase persiapan, dan ada banyak pergantian pemain,” ungkapnya. “Kami dalam suasana hati yang baik.”
Pada babak pertama, Prancis memang mampu mendominasi permainan dan mencetak gol melalui Cherki. Namun, pergantian pemain yang masif di babak kedua terindikasi memengaruhi stabilitas dan performa tim di lapangan.
Tipe Permainan Lawan Grup Piala Dunia
Lucas Hernandez melihat adanya kesamaan karakter permainan antara Pantai Gading dengan tim yang akan dihadapi Prancis di fase grup Piala Dunia 2026. Ia menyoroti bahwa Senegal, salah satu lawan di Grup I, memiliki gaya bermain yang mirip. “Kekalahan tidak pernah menyenangkan, meskipun kami melakukan beberapa hal baik di babak pertama,” katanya. “Di babak kedua kami melakukan banyak perubahan, tetapi itu bukan alasan. kami tidak sebaik setelah jeda, dan mereka bermain dengan tempo yang cepat.”
Ia melanjutkan, “Kita akan menghadapi tim dengan tipe yang sama pada tanggal 16 Juni (lawan Senegal, 17 Juni WIB).” Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya pelajaran yang bisa diambil dari kekalahan ini sebagai bekal menghadapi lawan-lawan tangguh di Piala Dunia.
Kekalahan ini menjadi sebuah pengingat vital bagi Prancis agar tidak terlena dan tetap waspada. “Ini adalah pengingat, jika kita membutuhkannya, untuk tidak berpikir bahwa kita lebih baik dari yang sebenarnya,” pungkasnya.
Grup I: Neraka di Piala Dunia 2026
Sementara itu, kekalahan Prancis dari Pantai Gading semakin memperkuat pandangan bahwa Grup I di Piala Dunia 2026 akan menjadi salah satu grup yang paling menantang. Pengamat sepak bola dari Spieltag Indonesia, Adrian, dalam sebuah podcast, mengungkapkan prediksinya bahwa Grup I yang dihuni oleh Prancis, Senegal, Norwegia, dan Irak adalah grup yang paling berat.
Menurut Adrian, Senegal merupakan juara Piala Afrika 2025, menunjukkan kualitas mereka sebagai tim yang patut diperhitungkan. Norwegia juga bukan lawan sembarangan, terbukti dengan status mereka sebagai pemuncak klasemen kualifikasi yang berhasil mengalahkan Italia dengan skor telak 4-0. Sementara itu, Irak baru saja menunjukkan performa impresif dengan menahan imbang Spanyol, juara Piala Eropa 2024, dengan skor 1-1 dalam laga uji coba.
“Kalau yang paling berat saya milih Grup I yang berisikan Prancis, Senegal, Norwegia, dan Irak,” kata Adrian. “Unsur kejutannya bisa terjadi dari grup ini. Prancis walaupun dengan skuad menetereng tidak bisa anggap mudah Senegal dan Norwegia, bahkan Irak pun akan tampil tanpa beban karena mereka sudah sampai di tahap ini itu sudah sangat bersejarah bagi mereka.”
Ia menambahkan, “Tapi namanya di sepak bola apalagi di Piala Dunia dengan masing-masing negara yang ada di grup I menurut saya ini yang paling sulit.”
Dengan demikian, kekalahan dari Pantai Gading menjadi alarm yang harus dicermati serius oleh Prancis. Pertandingan ini menjadi pelajaran berharga yang mungkin akan menentukan langkah mereka di turnamen Piala Dunia 2026, terutama mengingat beratnya persaingan di Grup I.




