Pasien Konsultasi Kesehatan ke AI? Ini Pernyataan Dokter

Peran AI dalam Kesehatan dan Pentingnya Konsultasi Dokter

Kecerdasan buatan (AI) kini menjadi salah satu alat yang sangat populer digunakan oleh masyarakat untuk mencari informasi terkait kesehatan. Tidak hanya untuk mengetahui berita terbaru, banyak orang juga memanfaatkan AI sebagai bantuan awal dalam mengidentifikasi gejala penyakit. Namun, meskipun AI bisa memberikan informasi awal, seorang ahli medis tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis yang akurat.

Hilman Tadjoedin, Kepala Kelompok Staf Medik Hematologi Onkologi Medik di RS Kanker Dharmais, menyampaikan bahwa pasien tidak boleh sepenuhnya mengandalkan AI dalam hal kesehatan. Ia menegaskan bahwa AI bisa saja memberikan hasil yang berbeda dari kondisi sebenarnya. Misalnya, AI mungkin mengatakan bahwa seseorang menderita anemia parah, padahal setelah diperiksa lebih lanjut, hasilnya berbeda. Oleh karena itu, pendapat atau informasi dari AI perlu dipertajam dan diperhalus oleh dokter.

Hilman juga mengingatkan bahwa penggunaan AI dalam konsultasi kesehatan bisa membuat pasien menunda kunjungan ke dokter. Hal ini sangat berisiko, terutama dalam kasus penyakit kanker. Jika diagnosis ditunda, maka pengobatan juga akan terlambat diberikan. Sel kanker bisa berkembang dengan cepat jika tidak segera ditangani. “Yang diobati adalah manusia, bukan mesin. Oleh karena itu, penanganan harus dilakukan oleh orang yang ahli,” tambahnya.

Tren Kanker di Indonesia dan Ancaman Masa Depan

Data dari Kementerian Kesehatan dan Global Cancer Observatory (Globocan) menunjukkan tren yang mengkhawatirkan terkait jumlah kasus kanker di Indonesia. Pada tahun 2022, tercatat sebanyak 408.661 kasus baru dengan 242.099 kematian. Proyeksi menunjukkan bahwa jumlah kasus kanker akan meningkat sebesar 63 persen pada periode 2025–2040 jika tidak ada intervensi signifikan. Bahkan, pada 2050, jumlah kasus diprediksi akan meningkat lebih dari 70 persen tanpa penguatan pencegahan dan deteksi dini.

Rencana Kanker Nasional 2024–2034 menunjukkan komitmen pemerintah dalam menghadapi tantangan pengendalian kanker. Pendekatan yang diambil mencakup promosi, pencegahan, pengobatan, hingga perawatan paliatif. Selain itu, rencana ini juga menekankan integrasi riset dan tata kelola sistem kesehatan. Langkah-langkah ini sejalan dengan rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia, serta menunjukkan semakin kuatnya keinginan politik untuk mengatasi salah satu penyakit yang bersifat katastropik ini.

Tantangan dalam Pengendalian Kanker

Meski ada upaya-upaya strategis, masyarakat masih menghadapi berbagai tantangan dalam menangani kanker. Salah satu tantangan utama adalah kesenjangan implementasi di berbagai daerah. Persoalan ini meliputi keterlambatan diagnosis akibat fasilitas pelayanan dan akses yang tidak merata. Akibatnya, banyak kasus kanker ditemukan pada tahap lanjut saat diagnosis pertama dilakukan.

Masalah ini diperparah oleh rendahnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya deteksi dini kanker. Selain itu, kendala lainnya adalah biaya pengobatan kanker yang relatif tinggi. Banyak lini terapi belum dapat ditanggung oleh skema pembayaran yang ada saat ini.

Jumlah tenaga kesehatan yang bekerja di bidang onkologi juga masih terbatas. Hingga September 2025, hanya ada 188 dokter konsultan hematologi onkologi Medik (KHOM). Prediksi menunjukkan bahwa jumlah ini akan bertambah antara 150–250 orang dalam lima tahun ke depan. Namun, kendala-kendala ini tetap berpotensi memperlebar jarak antara strategi dan realisasi di lapangan.

Kesimpulan

Meskipun AI memiliki peran penting dalam memberikan informasi awal, ia tidak dapat menggantikan peran dokter dalam diagnosis dan pengobatan. Konsultasi langsung dengan ahli medis tetap menjadi langkah kritis, terutama dalam menghadapi penyakit seperti kanker. Dengan peningkatan jumlah kasus kanker, diperlukan upaya serius dari berbagai pihak untuk meningkatkan pencegahan, deteksi dini, dan akses layanan kesehatan yang lebih merata.

Pos terkait