Penambang Emas Tewas Tertembak: Keluarga Bantah Keterlibatan KKB

Insiden Mematikan di Area Tambang Freeport: Keluarga Bantah Keterlibatan OPM

Mimika, Papua Tengah – Sebuah insiden tragis terjadi di Mile 69, area tambang PT Freeport Indonesia, Tembagapura, pada Senin malam, 2 Maret 2026. Kontak tembak antara Satgas Rajawali 4 dan sekelompok individu yang diduga sebagai anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau Organisasi Papua Merdeka (OPM) dilaporkan merenggut nyawa seorang warga sipil bernama Eanus Mom. Namun, pihak keluarga dengan tegas membantah klaim aparat, menyatakan bahwa Eanus Mom adalah seorang penambang emas sipil yang tidak memiliki kaitan dengan kelompok bersenjata.

Jenazah Eanus Mom tiba di rumah duka di Jalur 4, Distrik Kwamki Narama, Mimika, pada Selasa, 3 Maret 2026, dibawa menggunakan ambulans dengan pengawalan ketat dari Kodim 1710/Mimika. Keluarga korban bersikukuh bahwa telah terjadi kesalahan identifikasi yang berakibat fatal.

“Keluarga kami ini adalah warga sipil yang kesehariannya bekerja sebagai pendulang emas di area tersebut. Kami minta Dandim Mimika bertanggung jawab karena keluarga kami bukan OPM,” tegas Hellois Kemong, perwakilan keluarga korban. Ia menambahkan, pihak keluarga mendesak pimpinan kewilayahan TNI untuk memberikan penjelasan yang transparan dan bertanggung jawab atas insiden yang terjadi di objek vital nasional tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, pihak kewilayahan TNI di Mimika belum memberikan keterangan tambahan untuk menanggapi sanggahan dari pihak keluarga korban. Jenazah Eanus Mom kini disemayamkan oleh keluarga, sembari menunggu langkah hukum atau mediasi lebih lanjut antara pihak keluarga dan aparat keamanan.

Kronologi Operasi dan Penangkapan Enam Individu

Sebelumnya, pihak keamanan melaporkan bahwa Satgas Rajawali 4 telah melakukan tindakan tegas terukur terhadap kelompok yang diduga dipimpin oleh Jeki Murib pada Senin, 2 Maret 2026, sekitar pukul 18.00 WIT. Dalam operasi tersebut, satu orang dilaporkan tewas, yaitu Eanus Mom.

Selain insiden yang berujung pada tewasnya Eanus Mom, operasi tersebut juga berhasil mengamankan enam orang lainnya yang identitasnya disingkat menjadi DY, NM, YA, MK, YK, dan NK. Keenam individu yang diamankan tersebut telah dibawa ke Koramil 1710-04/Tembagapura untuk menjalani penyelidikan lebih lanjut. Tujuannya adalah untuk memastikan keterlibatan mereka dalam jaringan yang diduga terkait dengan aktivitas ilegal di area tersebut.

Barang Bukti yang Disita

Dalam operasi penegakan hukum tersebut, petugas juga berhasil menyita sejumlah barang bukti dari lokasi kejadian. Barang-barang yang berhasil diamankan antara lain:

  • Uang tunai senilai Rp 4,7 juta.
  • Satu unit busur panah.
  • Satu unit senapan angin.
  • Satu pucuk pistol rakitan.
  • Satu buah magazen.
  • Tiga butir amunisi dengan kaliber 9 mm.
  • Satu bendera Bintang Kejora.

Penyitaan barang bukti ini merupakan bagian dari upaya aparat keamanan untuk mengumpulkan informasi dan bukti guna mengungkap jaringan yang beroperasi di wilayah tersebut. Penyelidikan mendalam terhadap keenam individu yang diamankan diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai aktivitas dan tujuan kelompok tersebut.

Peran Keluarga dalam Menuntut Kejelasan

Keluarga Eanus Mom, melalui Hellois Kemong, secara konsisten menyuarakan penolakan terhadap narasi yang menyebutkan Eanus Mom sebagai anggota OPM atau KKB. Mereka menegaskan bahwa Eanus adalah warga sipil yang mencari nafkah sebagai penambang emas, dan kematiannya merupakan akibat dari kekeliruan identifikasi oleh aparat keamanan.

Permintaan keluarga tidak hanya sebatas pada pertanggungjawaban individu Dandim Mimika, tetapi juga menuntut transparansi dari seluruh pimpinan kewilayahan TNI terkait insiden yang terjadi di area yang memiliki nilai strategis dan ekonomi tinggi bagi Indonesia. Penegasan ini mencerminkan keinginan kuat keluarga untuk mendapatkan keadilan dan memastikan bahwa kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

Situasi di area tambang Freeport Tembagapura terus menjadi sorotan, terutama setelah insiden ini. Pihak keluarga kini menantikan langkah lebih lanjut dari aparat keamanan, baik melalui jalur hukum maupun mediasi, untuk mencari penyelesaian atas duka yang mereka alami.

Pos terkait