Santo Karolus Lwanga, Martir Uganda
Kebenaran dan keluhuran ajaran Yesus telah menjadi semangat bagi para pengikut-Nya di berbagai belahan dunia. Bahkan, kebenaran itu sering kali dibela dengan penuh tekad hingga mengorbankan nyawa. Di Afrika, khususnya di Uganda, pembelaan iman ini memicu pembunuhan terhadap banyak martir.
Pada hari Rabu 3 Juni 2026, kita merayakan peringatan Santo Karolus Lwanga, seorang martir yang dikenang karena kesetiaannya kepada iman. Pada masa itu, ajaran Kristen dianggap sebagai ancaman terhadap adat-istiadat kafir yang masih sangat primitif. Perdagangan budak, poligami, dan pemerkosaan anak-anak dianggap hal biasa. Oleh karena itu, kedatangan misionaris Katolik pada tahun 1879 untuk menyebarkan Injil Kristus dianggap sebagai ancaman terhadap praktik-praktik buruk tersebut.
Penguasa setempat, termasuk Raja Muanga yang dikenal sebagai raja yang bejat, melancarkan aksi pembunuhan terhadap para misionaris dan pemuda-pemuda Uganda yang sudah menjadi Kristen. Salah satu dari mereka adalah Santo Karolus Lwanga, yang melayani raja Muanga. Ia selalu menjaga agar anak-anak Kristen tidak tercemar oleh kebejatan raja. Kebencian Raja Muanga terhadap ajaran Kristen semakin memuncak karena hasutan orang-orang Arab.
Pada tanggal 25 Maret 1886, raja menemukan para pelayannya sedang mengikuti pelajaran agama dari seorang misionaris. Ia sangat marah dan langsung membunuh anak-anak itu. Keesokan harinya, ia mengumpulkan para ketua suku untuk memberi pertimbangan mengenai hukuman terhadap anak-anak Kristen lainnya. Namun, anak-anak ini tetap teguh dalam imannya dan tidak menghiraukan ancaman tersebut.
Anak-anak Kristen yang belum dibunuh, termasuk Karolus Lwanga, ditangkap dan dipenjarakan. Karolus, yang lebih tua, mempermandikan dan mengajar mereka tentang ajaran Kristen. Ia memperkuat hati mereka untuk menerima segala akibat yang paling buruk. Akhirnya, mereka rela mati demi imannya.
Karolus dan kawan-kawannya dibunuh demi membela iman Kristen. Mereka yakin bahwa Tuhan akan memberi pahala di surga yang jauh lebih membahagiakan. Pada tahun 1964, Santo Karolus Lwanga dinyatakan “kudus” oleh Sri Paus Paulus VI.
Santa Klotilda, Pengaku Iman
Santa Klotilda adalah puteri raja Burgundia. Ia menuntut calon suaminya, Raja Klodwig dari Franken, yang masih kafir, agar tetap diperbolehkan melaksanakan kewajiban agamanya. Ketika anak sulung mereka meninggal sesudah baptisannya, Klodwig hampir membatalkan janjinya. Namun, berkat kesabaran dan kelemah-lembutan Klotilda, Klodwig bertobat menjadi Kristen setelah memenangkan pertempuran atas musuhnya. Klotilda meninggal pada tahun 545.
Santo Kevin, Pengaku Iman
Puing-puing biara Glendalough di wilayah Wicklow, Irlandia, mengingatkan kita akan Santo Kevin, seorang rahib abad keenam. Konon, ia mendirikan biara Glendalough yang terkenal. Umurnya diperkirakan sekitar 120 tahun (498–618). Ada berbagai versi cerita tentang Santo Kevin, namun semuanya tidak memiliki nilai sejarah yang kokoh karena tidak ada tanggal pasti mengenai masa hidupnya sendiri.
Menurut tradisi, Kevin dididik oleh rahib-rahib kemudian ditahbiskan menjadi imam. Ketika dewasa, ia memilih hidup sebagai pertapa di Glendalough, salah satu tempat paling indah di Irlandia. Menurut tradisi, ia tinggal di sebuah gua sempit di gunung Lugduf. Gua itu, yang masih ada sampai sekarang, dapat dicapai dengan sebuah perahu menyusuri sebuah danau.
Kevin hidup akrab dengan alam, makan ikan dan hasil hutan, serta bersahabat dengan binatang liar. Kehidupan kerasnya sebagai pertapa berakhir ketika sekelompok orang mengetahui keberadaannya dan mulai menyebarkan berita tentang hidupnya. Akhirnya, lahir sebuah komunitas pertapaan di tempat itu.
Setelah kematian Kevin, Glendalough tetap menjadi pusat keagamaan dan pendidikan selama berabad-abad. Sampai tahun 1214, seorang uskup ditempatkan di Glendalough. Saat ini, banyak wisatawan datang ke Glendalough untuk melihat bekas biara Kevin berupa sebuah bekas bangunan biara, sebuah katedral, dan beberapa gereja. Glendalough merupakan salah satu tempat ziarah ramai di Irlandia.


