Perprindo: Ramadan & Lebaran Gagal Dongkrak Penjualan Elektronik Q1

Industri Elektronik Hadapi Tantangan di Awal 2026: Ramadan dan Lebaran Tak Mampu Dongkrak Penjualan

JAKARTA – Sektor industri elektronik dan peralatan listrik rumah tangga diprediksi akan menghadapi tren penurunan penjualan pada kuartal I tahun 2026. Momen besar seperti Ramadan dan Lebaran, yang biasanya identik dengan peningkatan konsumsi, diperkirakan tidak akan mampu memberikan dorongan signifikan terhadap daya beli masyarakat untuk produk-produk elektronik.

Sekretaris Jenderal Perkumpulan Perusahaan Pendingin Refrigerasi Indonesia (Perprindo), Andy Arif Widjaja, mengungkapkan bahwa fokus belanja masyarakat pada periode tersebut cenderung beralih ke kebutuhan primer. Hal ini menyebabkan produk-produk elektronik, yang seringkali dianggap sebagai barang sekunder atau tersier, kurang mendapatkan prioritas dalam alokasi anggaran rumah tangga.

“Ramadan dan Lebaran tidak dapat mendongkrak pembelian produk elektronik. Karena justru belanja akan difokuskan ke kebutuhan primer,” jelas Andy Widjaja dalam sebuah percakapan pada Rabu, 4 Maret 2026.

Kondisi pasar yang sedang melemah ini menuntut para produsen untuk segera mengambil langkah-langkah adaptif dan realistis guna menjaga kelangsungan bisnis mereka.

Strategi Adaptif Industri Elektronik di Tengah Pelemahan Daya Beli

Menghadapi tantangan pelemahan daya beli, industri elektronik perlu merumuskan strategi yang jitu. Perprindo menyarankan beberapa langkah kunci yang dapat diadopsi oleh para pelaku usaha:

  1. Penyesuaian Portofolio Produk:
    Di saat daya beli masyarakat menurun, produk-produk yang ditawarkan dengan harga lebih terjangkau dan memiliki nilai lebih (value for money) yang kuat akan cenderung lebih diminati. Produsen dituntut untuk lebih peka dan responsif terhadap perubahan preferensi konsumen. Ini berarti perlu ada evaluasi terhadap lini produk yang ada, dan kemungkinan untuk menghadirkan varian yang lebih ekonomis tanpa mengorbankan kualitas esensial.

  2. Efisiensi Operasional dan Pengendalian Biaya:
    Optimalisasi rantai pasok, disiplin dalam manajemen stok, dan peningkatan produktivitas menjadi elemen krusial untuk menjaga margin keuntungan tetap stabil di tengah tekanan permintaan yang rendah. Efisiensi ini tidak hanya berdampak pada biaya produksi, tetapi juga pada efektivitas distribusi dan ketersediaan produk.

  3. Inovasi dan Diferensiasi Produk:
    Konsumen di era saat ini cenderung lebih selektif dalam memilih produk. Produk yang menawarkan fitur unggulan seperti hemat energi, daya tahan yang lebih baik, atau didukung oleh layanan purna jual yang kuat akan memiliki keunggulan kompetitif yang lebih tinggi. Inovasi tidak melulu berarti menciptakan teknologi baru, namun juga bisa berupa peningkatan fitur yang relevan dengan kebutuhan dan keinginan konsumen saat ini.

  4. Penguatan Strategi Distribusi dan Pembiayaan Konsumen:
    Untuk mendorong keputusan pembelian di tengah keterbatasan daya beli, kerja sama dengan lembaga pembiayaan atau penawaran program cicilan yang ringan dapat menjadi solusi efektif. Mempermudah akses konsumen terhadap produk melalui skema pembayaran yang fleksibel diharapkan dapat merangsang permintaan.

Proyeksi Penurunan Penjualan yang Signifikan

Sebelumnya, Perprindo telah mengeluarkan proyeksi yang mengkhawatirkan mengenai tren penjualan industri elektronik dan alat listrik rumah tangga pada kuartal I-2026. Berdasarkan laporan dari para anggotanya, diprediksi akan terjadi penurunan penjualan yang cukup signifikan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

“Pada Kuartal I tahun ini, industri elektronik dan peralatan listrik rumah tangga mengalami penurunan penjualan dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ungkap Andy Arif Widjaja pada Selasa, 3 Maret 2026.

Andy memperkirakan, penurunan penjualan pada kuartal I-2026 ini berkisar antara 10% hingga 20% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini mengindikasikan bahwa pelemahan daya beli masyarakat memang menjadi faktor utama yang memengaruhi kinerja sektor ini.

Sinergi Pelaku Usaha dan Pemerintah Penting untuk Pemulihan

Andy Widjaja menekankan bahwa strategi internal yang dilakukan oleh para pelaku usaha saja tidak akan cukup memadai apabila kondisi makroekonomi dan konsumsi domestik secara keseluruhan tidak menunjukkan perbaikan. Oleh karena itu, sinergi yang kuat antara pelaku usaha dan pemerintah menjadi faktor penentu agar industri elektronik dapat bertahan dari gempuran tantangan dan kembali tumbuh secara sehat di masa mendatang.

Kolaborasi ini diharapkan dapat mencakup berbagai aspek, mulai dari kebijakan fiskal yang mendukung, insentif bagi industri, hingga program-program yang dapat meningkatkan daya beli masyarakat secara umum. Dengan demikian, sektor elektronik dapat kembali bangkit dan berkontribusi positif terhadap perekonomian nasional.

Pos terkait