Prabowo: Pembunuhan Marsinah Bisa Dihindari



Pada perayaan 33 tahun kematian Marsinah, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pernyataan penting mengenai tragedi yang menimpa aktivis buruh tersebut. Ia menegaskan bahwa insiden ini seharusnya tidak terjadi jika negara Indonesia benar-benar menjalankan nilai-nilai Pancasila.

Marsinah, seorang aktivis buruh yang tewas pada tahun 1993, menjadi simbol perjuangan bagi masyarakat yang tidak memiliki kekuasaan. Presiden Prabowo meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk, Jawa Timur, sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangannya.

“Peristiwa Marsinah yang dibunuh secara keji karena memperjuangkan kaum buruh pabrik suatu perusahaan sesungguhnya sama sekali tidak perlu terjadi,” ujar Prabowo saat berbicara di lokasi museum. Ia menekankan bahwa Pancasila, dengan sila kelima tentang keadilan sosial, seharusnya menjadi dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menurut Prabowo, nilai keadilan sosial harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. “Yang kaya harus narik yang miskin, yang kuat bantu yang lemah. Kekeluargaan,” jelasnya. Dengan demikian, ia menilai pembunuhan terhadap pejuang buruh seperti Marsinah tidak seharusnya terjadi.

Tragedi Marsinah, menurut Prabowo, adalah bagian dari masa lalu yang harus diperbaiki bersama. Ia melihat Marsinah sebagai simbol perjuangan semua orang yang berada di pihak yang lemah. “Perjuangan tersebut adalah lambang dari perjuangan semua, mereka-mereka yang berada di pihak yang lemah, orang-orang miskin, orang-orang yang tidak punya kekuasaan, orang-orang yang tidak punya kekuatan,” katanya.

Prabowo merasa terhormat karena bisa menetapkan Marsinah sebagai pahlawan nasional sekaligus meresmikan museum yang didedikasikan untuknya. Ia menyampaikan bahwa kalangan buruh sebelumnya meminta agar Marsinah diangkat menjadi pahlawan nasional.

Marsinah lahir pada 10 April 1969 di Nganjuk, Jawa Timur. Ia bekerja sebagai buruh di PT Catur Surya Putra (CPS), sebuah pabrik arloji di Sidoarjo. Aktivitasnya sebagai aktivis buruh sangat aktif, termasuk memimpin aksi-aksi untuk menuntut kenaikan upah dan perbaikan kondisi kerja.

Pada 9 Mei 1993, Marsinah ditemukan tewas di hutan di Dusun Jegong, Kecamatan Wilangan, Nganjuk. Pembunuhan ini merupakan pelanggaran HAM berat yang masih belum terselesaikan hingga saat ini. Diduga, Marsinah dibunuh setelah disiksa dan diculik karena aktif memimpin aksi demonstrasi untuk kenaikan upah buruh di pabrik tempatnya bekerja.

Pada 3 Mei 1993, Marsinah memimpin aksi demonstrasi di pabrik tempatnya bekerja. Akibat unjuk rasa tersebut, manajemen PT CPS memanggil 13 buruh yang dianggap sebagai penggerak aksi mogok dengan bantuan aparat militer.

Pada 5 Mei 1993, ke-13 buruh tersebut diinterogasi, diancam, dan dipaksa untuk membuat surat pengunduran diri. Mengetahui rekan-rekannya diintimidasi, Marsinah mendatangi markas Kodim Sidoarjo untuk mencari informasi dan melakukan protes. Pada malam harinya, Marsinah menghilang.

Jenazahnya ditemukan pada 8 Mei 1993 di sebuah gubuk tengah hutan Dusun Jegong, Desa Wilangan, dengan tanda-tanda penyiksaan berat.

Pada 2025, 32 tahun setelah kematiannya, Presiden Prabowo menetapkan Marsinah sebagai pahlawan nasional. Namun, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa penetapan ini tidak berkaitan dengan penyidikan ulang kasus pembunuhan aktivis buruh itu.

“Kami melihat jasa-jasa dari para tokoh-tokoh terutama juga para pendahulu-pendahulu,” kata Prasetyo.

Hendrik Yaputra berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Pos terkait