Program Kampung Sehat YPMAK di Aindua, Mimika: Solusi Kesehatan untuk Wilayah Terpencil
Di tengah tantangan geografis yang menghambat akses layanan kesehatan bagi warga pesisir, Program Kampung Sehat yang diinisiasi Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) berhasil menjadi solusi penting. Di Kampung Aindua, Distrik Mimika Barat Jauh, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, program ini telah memberikan layanan medis 24 jam yang sangat dinantikan oleh masyarakat.
Program ini hadir sebagai mitra pemerintah dalam memastikan masyarakat di wilayah terpencil tetap mendapatkan layanan kesehatan yang layak dan cepat. Meski memiliki keterbatasan sumber daya, tim medis tetap aktif menangani berbagai penyakit seperti ISPA hingga diare. Dengan sistem rotasi tenaga kesehatan setiap tiga bulan, para petugas tetap menjaga kualitas layanan meskipun jumlah personel terbatas.
Pengalaman Warga yang Mengapresiasi Layanan Medis
Teresia Kamkaulah, salah satu warga Kampung Aindua, menyampaikan rasa syukur atas kehadiran tim medis di wilayahnya. Ia mengatakan bahwa akses kesehatan seringkali menjadi barang mewah yang sulit dijangkau karena kendala geografis. Namun, melalui Program Kampung Sehat, sekat-sekat isolasi layanan kesehatan tersebut mulai runtuh.
“Kalau ada warga sakit darurat, bahkan tengah malam pun tim tetap melayani kami dengan baik,” ujarnya dengan penuh rasa syukur. Keramahan dan kejelasan informasi mengenai dosis obat membuat warga merasa tenang dan diperhatikan.
Fokus pada Pelayanan Dasar dan Edukasi Kesehatan
Kepala Divisi Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kesehatan YPMAK, Riana Wadibar, menjelaskan bahwa program ini dirancang khusus untuk menjangkau wilayah yang belum tersentuh layanan pemerintah. YPMAK berkomitmen mengisi ruang-ruang kosong pelayanan medis agar masyarakat di pelosok tetap mendapatkan hak kesehatan yang layak.
Fokus utama dari Program Kampung Sehat adalah memberikan pertolongan pertama dan pengobatan dasar yang cepat serta tepat sasaran. Respons masyarakat sangat positif karena program ini menyentuh kebutuhan mendasar mereka.
Riana juga mengakui adanya keterbatasan sarana, namun pihaknya tetap berupaya memberikan pelayanan semaksimal mungkin bagi warga lokal. Ia menegaskan bahwa posisi Program Kampung Sehat bersifat suportif terhadap agenda besar pemerintah daerah. YPMAK tidak bermaksud mengambil alih peran negara, melainkan menjadi mitra strategis dalam memperkuat ketahanan kesehatan warga.
Sistem Rotasi Tenaga Kesehatan
Terkait teknis operasional, Riana menjelaskan bahwa sistem penarikan tenaga kesehatan (nakes) dilakukan setiap tiga bulan sekali. Kebijakan ini diambil murni karena keterbatasan jumlah personel medis yang dimiliki oleh pihak yayasan. Para nakes memerlukan waktu istirahat yang cukup untuk menjaga kualitas pelayanan sebelum mereka diterjunkan kembali ke lapangan.
“Tenaga kami terbatas, sehingga setelah tiga bulan bertugas mereka harus beristirahat sebelum kembali bertugas,” jelas Riana, membandingkan dengan sistem rotasi pemerintah yang memiliki sumber daya lebih besar.
Upaya Preventif dan Edukasi Kesehatan
Dukungan keamanan dan kenyamanan dari masyarakat sangat diperlukan agar para petugas dapat bekerja secara totalitas. Di Kampung Aindua, tantangan kesehatan didominasi oleh penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare. Petugas Kampung Sehat, Suster Siska, bersama Koordinator Area, Suster Ida Fauziah, terus berjaga secara bergantian untuk melayani pasien.
Selain pengobatan, kedua suster ini juga melakukan Pemantauan Minum Obat (PMO) guna memastikan pasien sembuh total. Upaya preventif ini dilakukan untuk mencegah terjadinya resistensi obat atau komplikasi penyakit yang lebih berat di kemudian hari.






