Marjane Satrapi, seorang penulis komik dan sutradara film asal Iran-Prancis, meninggal dunia pada usia 56 tahun. Karyanya yang terkenal, Persepolis, telah menginspirasi jutaan pembaca di seluruh dunia.
Karya-karyanya memberikan pandangan pribadi tentang Revolusi Islam Iran. Penulis yang dikenal melalui novel grafis dan filmnya ini meninggal setelah kehilangan suaminya, Mattias Ripa, yang juga seorang produser dan aktor asal Swedia. Pihak keluarga menyatakan bahwa kematian Satrapi disebabkan oleh rasa duka yang mendalam setelah kepergian Ripa pada 8 April 2025.
Setelah kepergian suaminya, Satrapi mendirikan Mattias and Marjane Ripa-Satrapi Cinema Foundation untuk membantu mahasiswa asing yang ingin belajar sinematografi di Paris. Ia juga mengekspresikan dukanya melalui media sosial dengan pesan singkat: “Karena saya telah kehilangan cinta sejati saya.”
Karya monumental Persepolis
Persepolis adalah karya sastra autobiografi yang sangat diakui. Novel grafis ini menceritakan kehidupan masa kecil Satrapi di Teheran, serta pengalaman pribadinya dalam menghadapi aturan-aturan ketat pasca-Revolusi Islam Iran 1979. Orang tuanya mengirimnya ke Eropa saat berusia 14 tahun karena khawatir akan keselamatannya.
Dengan ilustrasi hitam putih dan gaya penceritaan yang lugas, Persepolis berhasil memperkenalkan konteks politik dan sosial Iran kepada banyak pembaca di Barat. Karya ini juga menunjukkan bahwa novel grafis bisa menjadi medium untuk ekspresi sastra yang serius.

Keberanian di lingkungan Teheran
Lahir pada 22 November 1969 di Rasht, Iran, Satrapi tumbuh di tengah keluarga yang aktif secara politik. Pengalaman hidupnya di bawah rezim Islam Iran dan perjuangannya sebagai remaja pemberontak menjadi dasar bagi karyanya. Meski memiliki pemahaman tentang pemikiran Barat sejak muda, ia sering kali mengabaikan aturan kesopanan dan mendengarkan musik yang dilarang. Akibatnya, orang tuanya mengirimnya ke Wina.
Pergulatan identitas, alienasi, dan kepulangan ke Teheran menjadi tema utama dalam Persepolis. Buku ini pertama kali diterbitkan sebagai serial pada 2000, lalu dirangkum menjadi satu jilid dan diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa. Karya ini memenangkan berbagai penghargaan bergengsi.
Selain Persepolis, karya-karyanya seperti Embroideries dan Chicken with Plums juga menggambarkan kehidupan pribadi dan keluarganya. Di Woman, Life, Freedom (2024), ia bekerja sama dengan aktivis, seniman, dan akademisi untuk menggambarkan perjuangan hak-hak perempuan di Iran, terutama setelah kasus Jina Mahsa Amini.

Karier di dunia perfilman
Satrapi tidak hanya dikenal sebagai penulis komik, tetapi juga sebagai sineas. Pada 2007, ia menyutradarai adaptasi film animasi Persepolis bersama Vincent Paronnaud. Film ini tayang perdana di Festival Film Cannes dan dinominasikan untuk Academy Award.
Ia juga menyutradarai Chicken with Plums pada 2011, dan The Voices (2014), sebuah film komedi gelap berbahasa Inggris yang dibintangi Ryan Reynolds. Karya-karyanya menampilkan kombinasi kreativitas visual dan intensitas emosional yang khas.
Suara bagi kebebasan berekspresi
Sebagian besar masa dewasanya dihabiskan di Eropa. Ia tiba di Prancis pada 1994 dan memperoleh kewarganegaraan Prancis pada 2006. Ia sering merefleksikan isu-isu seperti pengasingan, identitas, dan kesalahpahaman antar budaya.
Selama kariernya, Satrapi konsisten menyuarakan dukungannya terhadap kebebasan berekspresi dan mengkritik otoritarianisme. Meskipun kritis terhadap rezim Iran, ia juga menentang stereotip Barat terhadap masyarakat Iran. “Saya orang Iran,” katanya, “tetapi identitas tersebut mencakup keberagaman.”
Ia juga menolak penghargaan Legion of Honor dari Prancis pada 2025 karena menilai negara itu munafik dalam hubungannya dengan Iran.
Melalui kisah-kisah pribadinya, Satrapi mewariskan karya yang mengubah cara menyampaikan cerita tentang revolusi dan pengasingan. Karyanya akan terus menginspirasi generasi mendatang.
“Kita bisa menjadi ‘pengeras suara’, itu saja,” ujarnya dalam wawancara dengan The Guardian. “Jika kita berpikir bahwa kita ini sesuatu selain dari ‘pengeras suara’, lebih baik kita diam saja — ini adalah masalah kepatutan.”

