Sentuhan Magis Sisi: Batik di Atas Keramik, Sukses Dunia Bersama BRI

Kehidupan di Balik Seni Keramik Bogor Lion Art

Aroma tanah basah berpadu dengan hawa hangat dari sudut ruangan langsung menyergap indra penciuman saat melangkah masuk ke sebuah rumah produksi di kawasan Kedunghalang, Bogor, Jawa Barat. Di dalam bangunan yang sekaligus berfungsi sebagai galeri tersebut, deretan cangkir, vas, hingga hiasan dinding berbahan keramik tertata rapi di atas rak-rak kayu. Di sudut lain, kepulan asap tipis keluar dari tungku-tungku pembakaran yang sedang bekerja membakar tanah liat di suhu ekstrem, mencapai 1.200 derajat celcius.

Di sinilah Taurisia Y. T. Wijaya—atau yang akrab disapa Sisi—menghabiskan hari-harinya. Wanita berusia 45 tahun ini adalah sosok di balik Bogor Lion Art dan tempat wisata edukasi Imah Keramik Bogor. Di tangannya, tanah liat putih asal Parung Panjang disulap menjadi karya seni bernilai tinggi, termasuk sebuah inovasi langka yang belum pernah ada sebelumnya: pembatikan di atas media keramik.

“Memindahkan motif batik tulis yang biasa di kain ke atas media keramik itu prosesnya sangat panjang dan melelahkan. Penuh dengan trial and error. Banyak gagalnya, tetapi itu adalah bagian dari proses belajar kami,” kenang Sisi saat Tribunnews mengunjungi galerinya di Kedunghalang, Bogor, beberapa waktu lalu.

Sembari mengajak berkeliling di galeri sekaligus pabrik keramik seluas 5.000 meter persegi itu, jemari Sisi dengan lembut menunjukkan detail cangkir bermotif batik di galeri miliknya itu.

Inovasi berani tersebut berbuah manis. Sisi sukses menyabet Juara 1 INACRAFT Award 2023 dan INACRAFT Dekranasda Jabar Award 2025 untuk kategori keramik. Bahkan, keramik batik hitam legam karyanya kini telah melanglang buana hingga ke pasar Jerman, memikat hati para diaspora dan warga lokal di sana.

Menembus Badai Pandemi

Darah seni keramik sebenarnya mengalir dari sang ayah, yang dahulu berguru langsung di Balai Besar Keramik Bandung. Namun, berbeda dengan sang ayah yang lebih fokus pada lini produksi industri konvensional yang dicetak massal, Sisi cilik justru jatuh cinta pada sisi artistiknya. Sejak duduk di bangku SMP, ia sudah terbiasa meraba, meremas, dan membentuk tanah liat menjadi patung-patung kecil.

Jalan bisnis Sisi dimulai saat usaha keramik seni yang dirintis ayahnya sejak tahun 2009 mengalami kemacetan akibat salah urus manajemen. Setahun berselang, pada 2010, usaha yang hampir mati itu diserahkan sepenuhnya kepada Sisi dengan modal yang sudah terkuras habis.

Enggan menyerah, Sisi memutar otak. Selama satu dekade (2010-2020), ia menyambung napas usaha dengan bergerilya mengajar seni keramik dari sekolah ke sekolah sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Namun, saat roda ekonomi mulai stabil, badai pandemi COVID-19 menghantam di tahun 2020. Aktivitas mengajar terhenti total selama tiga tahun. Tabungan keluarga terkuras habis demi bertahan hidup.

Meski terjepit, Sisi memegang teguh prinsip hidup dari sang ayah: membangun usaha dengan kaki sendiri dan sebisa mungkin menghindari utang.

“Prinsip dari ayah saya, kalau bisa jangan ada utang. Jadi saat kami mulai bangkit untuk memproduksi barang lagi di akhir tahun 2022, permodalannya murni dari sisa tabungan yang dikelola dengan sangat ketat,” tutur Sisi.

Titik Balik dan ‘Kepingan Puzzle’ Bersama Rumah BUMN BRI

Pascapandemi, inovasi keramik batik lahir dari rahim kreativitas Sisi. Namun, ia langsung berhadapan dengan tembok besar baru: pemasaran. Sisi tahu betul bahwa produk keramik artisannya tidak bisa dijual secara obral di pasar umum. Produknya harus masuk ke pameran atau bazar kelas atas seperti INACRAFT agar bertemu dengan pembeli yang tepat. Masalahnya, biaya sewa stan pameran mandiri sangatlah mahal, bisa mencapai Rp28 juta untuk lima hari acara.

Di tengah kebingungan mencari akses pemasaran itulah, Sisi menemukan jalan terang lewat Rumah BUMN BRI. Ia memutuskan bergabung dan mendaftarkan usahanya untuk ikut serta dalam program BRIncubator, sebuah wadah inkubasi yang dirancang BRI untuk menyaring dan membina UMKM potensial agar bisa naik kelas.

“Awalnya saya ikut pelatihan-pelatihan di BRIncubator itu tujuannya sederhana, supaya bisa dikurasi dan dapat fasilitas stan pameran gratis dari BRI karena kami tidak punya biaya. Eh, ternyata tidak cuma dapat stan gratis, kami malah dibimbing secara total. Puncaknya pada tahun 2024, kami berhasil meraih Juara 2 BRIncubator,” kata Sisi dengan mata berbinar penuh rasa syukur.

Lewat program BRIncubator, BRI memberikan pendampingan yang intensif dari hulu ke hilir. Proses bimbingan dilakukan secara hibrida; dimulai dari sesi daring melalui Zoom, hingga kunjungan langsung para mentor ke rumah produksi Sisi di Kedunghalang.

“Mentornya melihat langsung ke lapangan, memetakan masalah kami secara riil, dan memberikan problem solving. Kami diajarkan bagaimana menyusun rencana bisnis (business plan) yang matang, manajemen keuangan, hingga target pengembangan usaha untuk 5 tahun ke depan. Itu benar-benar ngebantu dan mematangkan kami,” jelas Sisi.

Dari Bisnis Hijau hingga Wisata Edukasi Publik

Dampak dari pembinaan BRI langsung terasa nyata. Kehadiran Bogor Lion Art di berbagai pameran yang difasilitasi oleh BRI menjadi keran pembuka datangnya pesanan-pesanan baru. Pengunjung pameran yang terpikat dengan keunikan keramik batik Sisi mulai berdatangan untuk memesan produk personal maupun custom dalam volume besar—mulai dari gelas untuk kafe-kafe estetik, suvenir instansi, hingga pesanan patung berukuran besar.

Keunggulan lain dari keramik karya Sisi terletak pada prinsip ramah lingkungan. Berbeda dengan gerabah atau keramik murah yang menggunakan finishing cat kimia, Sisi menggunakan 100 persen material alam. Efek mengilap (glossy) didapatkan dari powder kaca murni, sedangkan warnanya berasal dari batuan alam yang dilelehkan bersama bodi tanah liat di dalam tungku bersuhu 1.200 derajat celcius.

“Bapak ambil pisau atau cutter lalu kerok keramik ini. Kalau dia rontok, berarti pakai cat kimia. Kalau ini tidak akan rusak karena warnanya menyatu dengan kaca. Ini adalah industri hijau, tanpa limbah kimia sama sekali,” tegasnya.

Kini, dengan dibantu oleh 7 orang karyawan, Sisi tidak hanya fokus pada produksi fisik. Sejak akhir 2022, ia resmi membuka Imah Keramik Bogor untuk publik sebagai destinasi wisata edukasi. Setiap harinya, tempat ini ramai dikunjungi oleh perorangan, rombongan Dharma Wanita, hingga bus-bus sekolah dari luar kota seperti Bandung. Cukup membayar biaya per orang, pengunjung sudah disiapkan bahan serta alat, dan bisa membawa pulang hasil karya tanah liat buatan mereka sendiri.

Pos terkait