Evaluasi Penggunaan Anggaran MBG Harus Dilakukan Berkala
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) masih menghadapi berbagai tantangan dalam pelaksanaannya. Pergantian pimpinan BGN, yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 2 Juni 2026, dinilai tidak serta-merta menyelesaikan masalah yang ada. Ekonom Universitas Brawijaya, Noval Adib, menilai bahwa keberhasilan MBG tidak hanya bergantung pada pergantian figur pimpinan, tetapi juga pada perbaikan sistem manajemen dan tata kelola secara menyeluruh.
Menurut Noval, pengelolaan anggaran BGN selama ini dinilai belum sepenuhnya mengedepankan prinsip efisiensi biaya dan efektivitas penggunaan anggaran. Hal ini menyebabkan adanya beberapa pengeluaran yang menuai sorotan publik karena dianggap tidak langsung berkaitan dengan tujuan utama program pemenuhan gizi. Oleh karena itu, evaluasi terhadap penggunaan anggaran harus dilakukan secara berkala untuk memastikan setiap belanja program memberikan manfaat optimal bagi pencapaian tujuan utama MBG, yakni meningkatkan kualitas gizi masyarakat.
Dana Program MBG Harus Terapkan Prinsip Akuntabilitas
Noval juga menyoroti sejumlah belanja yang menurutnya perlu dievaluasi, termasuk penggunaan jasa penyelenggara acara (event organizer) yang disebut menelan anggaran lebih dari Rp100 miliar. Selain itu, pengadaan ribuan motor listrik diklaim menghabiskan dana lebih dari Rp1 triliun. Ia juga mempertanyakan pengadaan berbagai kebutuhan pendukung seperti kaus kaki, handuk, hingga semir sepatu yang dinilainya tidak berkaitan langsung dengan pelaksanaan program pemenuhan gizi.
“Bagaimana bisa anggaran sebesar itu dialokasikan untuk berbagai kebutuhan yang nilai tambahnya terhadap tujuan program masih dipertanyakan,” katanya.

Naniek Suryati Dayang Diminta Lakukan Reformasi Tata Kelola
Ia turut mengkritik skema insentif bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Menurut Noval, insentif yang mencapai Rp 6 juta per hari berpotensi membebani anggaran apabila tidak diiringi mekanisme evaluasi yang ketat. Berdasarkan perhitungannya, anggaran MBG berpotensi dihemat antara Rp100 triliun hingga Rp200 triliun apabila tata kelola program dijalankan secara lebih efektif dan efisien.
“Dulu saya pernah menyampaikan bahwa anggaran MBG bisa dihemat Rp 100 triliun sampai Rp 200 triliun jika pengelolaannya dilakukan dengan prinsip-prinsip manajemen yang benar,” ujarnya.

Presiden Prabowo Copot Dadan Kemarin
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto melakukan pergantian pimpinan BGN pada 2 Juni 2026. Posisi Kepala BGN yang sebelumnya dijabat Dadan Hindayana kini diisi oleh Nanik Suryati Dayang yang sebelumnya menjabat Wakil Kepala BGN. Pengumuman pergantian tersebut disampaikan oleh Prasetyo Hadi di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa (2/6/2026) malam. Hingga kini, pemerintah belum menyampaikan secara rinci alasan pergantian pimpinan lembaga tersebut.
BGN merupakan lembaga yang bertanggung jawab menjalankan Program Makan Bergizi Gratis, salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo yang menyasar siswa sekolah, balita, serta ibu hamil dan menyusui. Menurut Noval, momentum pergantian pimpinan seharusnya dimanfaatkan untuk memperkuat tata kelola program, meningkatkan efisiensi penggunaan anggaran, serta memastikan manfaat MBG dapat dirasakan secara optimal oleh masyarakat yang menjadi sasaran program.






