Surabaya Jadi Pilot Project Pengurangan Sampah Plastik Di Sungai

Surabaya Jadi Contoh dalam Pengelolaan Sampah Plastik Sungai

Surabaya menjadi kota percontohan dalam program pengelolaan sampah plastik di sungai. Program ini dirancang untuk mengurangi pencemaran sampah plastik sebelum mencapai laut. Dengan pendekatan yang terpadu, program ini diharapkan menjadi solusi berkelanjutan dalam menangani isu lingkungan yang semakin mendesak.

Program ini didukung oleh beberapa pihak penting, termasuk Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Lingkungan Hidup, United Nations Development Programme (UNDP), serta Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL). Kerja sama lintas sektor ini menjadi fondasi utama dalam menjalankan inisiatif yang berfokus pada pembersihan dan pengelolaan sampah.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, M. Fikser, menjelaskan bahwa program tersebut telah berjalan sejak beberapa waktu lalu. Tujuan utamanya adalah membersihkan sampah dari dua sungai utama, yaitu Kali Tebu dan Kali Merutu. Setiap hari, rata-rata satu ton sampah plastik berhasil diangkat dari kedua sungai tersebut melalui kolaborasi antara pemerintah daerah dan organisasi lingkungan.

“Kolaborasi ini sangat penting karena tidak hanya membantu pembersihan, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan,” ujar Fikser saat memberikan penjelasan di Ruang Praban, Lantai 3 Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Surabaya, Jumat (5/6).

Selain fokus pada pembersihan, program ini juga menekankan edukasi kepada masyarakat tentang cara mengelola sampah secara benar. Pendekatan ini dinilai sebagai kunci untuk membangun kesadaran warga agar dapat mengelola sampah sejak dari sumbernya.

Dampak program ini mulai terasa oleh masyarakat sekitar. Sampah yang berhasil dikumpulkan tidak langsung dibuang, tetapi dipilah, disortir, dan dikemas untuk dijual kembali. Proses ini melibatkan warga setempat, sehingga menciptakan peluang ekonomi baru sekaligus memberikan nilai tambah dari sampah yang sebelumnya tidak termanfaatkan.

Perubahan Perilaku Masyarakat sebagai Faktor Utama

Ketua Kelompok Kerja Perubahan Perilaku Masyarakat Direktorat Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular, Sri Morwani Nifadilastuti, menegaskan bahwa perubahan perilaku masyarakat menjadi faktor utama dalam menyelesaikan persoalan sampah perkotaan. Menurutnya, pemilahan sampah sejak dari sumber akan mencegah sampah berakhir di sungai maupun lokasi pembuangan liar yang berpotensi mencemari lingkungan.

“Pengurangan dan pemilahan sampah dari sumbernya menjadi kunci dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. Sampah yang dikelola dengan baik tidak hanya mengurangi pencemaran, tetapi juga dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujar Titut, sapaan akrabnya.

Sinergi Antara Berbagai Pihak

Senada dengan itu, Koordinator Sekretariat Tim Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), Ahmad Bahri Rambe, mengatakan keberhasilan program sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga internasional, dan masyarakat. Melalui kerja sama UNDP dan TKN PSL, program ini dirancang untuk membantu pemerintah mengurangi pencemaran sampah di sungai, baik sampah plastik maupun sampah organik.

“Selain kegiatan pembersihan sungai, edukasi masyarakat menjadi komponen utama program ini. Tujuannya agar perubahan perilaku dapat terbangun dan pengelolaan sampah berjalan berkelanjutan dalam jangka panjang,” kata Ahmad Bahri.

Kolaborasi Nasional dan Internasional

Mewakili Asisten Deputi Ekonomi Sirkular dan Dampak Lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Ahmad Didin mengungkapkan bahwa program ini merupakan hasil kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Norwegia dengan UNDP sebagai lembaga pelaksana. Pada tahap awal, program dijalankan di lima wilayah yakni Surabaya, Sidoarjo, Bekasi, Solo, dan Bali.

Namun demikian, Surabaya menjadi daerah pertama yang dipilih untuk peluncuran program. Pemilihan tersebut bukan tanpa alasan. Kota Pahlawan dinilai memiliki komitmen kuat dalam pengelolaan sampah dan telah menunjukkan berbagai inovasi yang dapat menjadi contoh bagi daerah lain.

“Surabaya diharapkan menjadi model bagi daerah lain. Jika implementasinya berhasil, berbagai praktik baik yang diterapkan di sini dapat direplikasi untuk memperkuat pengelolaan sampah dan mengurangi pencemaran plastik secara nasional,” ujar Didin.

Pos terkait