Kondisi Ketenagakerjaan di Kalimantan Timur Mengalami Perubahan
Kondisi ketenagakerjaan di Kalimantan Timur mengalami perubahan yang signifikan, terutama akibat kelesuan sektor pertambangan. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur menunjukkan bahwa sebanyak 40.356 pekerja di sektor pertambangan kehilangan pekerjaan pada Februari 2026 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Perkembangan ini menjadi isu serius karena sektor pertambangan selama ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Penurunan jumlah tenaga kerja ini terjadi seiring melemahnya kinerja komoditas batu bara, yang terlihat dari penurunan volume dan nilai ekspor pada triwulan pertama 2026. Hal ini memengaruhi dinamika pasar kerja di Bumi Etam.
Meskipun Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kaltim secara keseluruhan turun tipis menjadi 5,27 persen atau berkurang 0,06 persen poin dibandingkan tahun sebelumnya, tekanan justru terlihat di wilayah perkotaan. Data BPS menunjukkan TPT perkotaan meningkat 0,45 persen poin menjadi 5,82 persen. Kondisi ini menjadi perhatian karena terjadi di tengah masifnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang diharapkan mampu membuka lebih banyak kesempatan kerja.
Menurut Kepala BPS Provinsi Kaltim, Mas’ud Rifai, laju penurunan TPT semakin melambat. Dari setiap 100 orang angkatan kerja di Bumi Etam, masih ada sekitar 5 hingga 6 orang yang belum mendapat pekerjaan. Melemahnya sektor pertambangan tidak lepas dari turunnya kinerja ekspor komoditas utama daerah, yaitu batu bara.
Penurunan dipicu oleh komoditas utama batubara, hal ini terlihat dari volume dan nilai ekspor luar negeri untuk HS 27 yaitu batubara Kalimantan Timur pada triwulan I tahun 2026 mengalami penurunan.
Di tengah tekanan yang dialami sektor tambang, sejumlah sektor jasa mulai mengambil peran sebagai penyerap tenaga kerja baru. BPS Kaltim mencatat sektor Aktivitas Jasa Lainnya mampu menyerap 38.156 pekerja, sementara sektor Administrasi Pemerintahan menambah 13.067 tenaga kerja. Meski demikian, tambahan tenaga kerja di sektor jasa tersebut belum sepenuhnya mampu mengimbangi jumlah pekerja yang keluar dari sektor pertambangan.
Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2026 juga menunjukkan tantangan lain di bidang ketenagakerjaan. Tingkat pengangguran tertinggi justru berasal dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang mencapai 8,81 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan lulusan SMA sebesar 6,20 persen maupun lulusan Diploma dan universitas yang berada di angka 6,67 persen.
Sementara kelompok pendidikan SD ke bawah mencatat tingkat pengangguran terendah sebesar 1,56 persen karena mayoritas bekerja di sektor informal. Selain itu, BPS juga mencatat tingginya jumlah pekerja tidak penuh di Kalimantan Timur. Sebanyak 519.503 orang atau 21,18 persen dari total pekerja bekerja kurang dari 35 jam per minggu.
[PIC-0]
“Pekerja tidak penuh ini dikelompokkan menjadi setengah penganggur, yakni mereka yang masih mau bekerja jika ada tawaran lain, dan pekerja paruh waktu yang memang tidak mencari pekerjaan lain,” pungkas Mas’ud.





