AI Bertanggung Jawab: Kunci Kemajuan

Menerapkan Kecerdasan Buatan Secara Bertanggung Jawab: Standar Global ISO/IEC 42001 Menjadi Kunci

Di era transformasi digital yang serba cepat, kecerdasan buatan (AI) telah menjelma menjadi kekuatan pendorong inovasi di berbagai sektor industri. Namun, seiring dengan potensi besarnya, muncul pula tantangan terkait bagaimana memanfaatkan teknologi ini secara efektif, etis, dan aman. Untuk menjawab kebutuhan ini, organisasi kini semakin dituntut untuk memastikan bahwa penggunaan AI tidak hanya memberikan nilai nyata, tetapi juga dikelola dengan prinsip akuntabilitas dan tanggung jawab.

Dalam konteks inilah, penerapan standar global seperti ISO/IEC 42001:2023 untuk Sistem Manajemen Kecerdasan Buatan (AIMS) menjadi krusial. Standar ini menyediakan kerangka kerja komprehensif yang mengatur tata kelola, manajemen risiko, transparansi, dan akuntabilitas dalam pemanfaatan AI.

Peran Veda Praxis dalam Adopsi AI yang Bertanggung Jawab

Veda Praxis, sebuah konsultan manajemen terkemuka di Asia Tenggara dengan pengalaman lebih dari dua dekade dalam bidang digital, tata kelola, risiko, dan kepatuhan (GRC), serta keamanan siber, memainkan peran penting dalam membantu organisasi mengintegrasikan AI secara bertanggung jawab. Syahraki Syahrir, CEO Veda Praxis, menekankan pentingnya memastikan bahwa setiap pemanfaatan AI memberikan nilai yang terukur sekaligus dikelola dengan prinsip etika dan keamanan.

“Seiring dengan meningkatnya pemanfaatan AI di berbagai industri, Veda Praxis membantu organisasi memastikan bahwa penggunaan AI memberikan nilai nyata sekaligus dikelola secara bertanggung jawab,” ujar Syahraki. Pendampingan yang dilakukan oleh tim Veda Praxis berfokus pada beberapa aspek kunci:

  • Pembentukan Kerangka Tata Kelola yang Jelas: Membangun struktur organisasi dan kebijakan yang memastikan pengawasan dan pengendalian yang efektif terhadap sistem AI.
  • Penerjemahan Prinsip AI ke dalam Kebijakan Operasional: Mengubah prinsip-prinsip etika dan keamanan AI menjadi prosedur dan praktik kerja sehari-hari yang dapat diimplementasikan oleh seluruh elemen organisasi.
  • Penilaian Kesiapan Organisasi: Mengevaluasi kesiapan organisasi dalam mengadopsi AI, memastikan bahwa implementasinya selaras dengan tujuan bisnis strategis, profil risiko yang dihadapi, serta kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.

Tonggak Sejarah BCA: Pelopor Sertifikasi Manajemen AI di Asia Tenggara

Sebuah pencapaian monumental diraih oleh PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dengan menjadi organisasi pertama di Indonesia, bank pertama di Asia Tenggara, serta bank konvensional pertama dan salah satu dari 100 organisasi pertama di dunia yang berhasil meraih sertifikasi ISO/IEC 42001:2023 untuk Sistem Manajemen Kecerdasan Buatan (AIMS). Prestasi ini diraih melalui kolaborasi erat dengan Veda Praxis.

Sertifikasi ini, yang diserahkan pada 6 Februari 2026 di Menara BCA, menandai komitmen kuat BCA dalam mengelola AI secara bertanggung jawab. ISO/IEC 42001:2023 menjadi semakin relevan di sektor perbankan, mengingat peran AI yang kian sentral dalam:

  • Pengambilan keputusan strategis.
  • Pengelolaan risiko kredit dan operasional.
  • Deteksi dan pencegahan potensi fraud.
  • Peningkatan kualitas layanan nasabah.

Acara penyerahan sertifikasi dihadiri oleh jajaran pimpinan BCA, termasuk Direktur Lianawaty Suwono, Senior EVP Group Strategic Information Technology BCA David Formula, EVP Enterprise IT Architecture, Data Management, Service Quality Group BCA Lily Wongso, serta CEO Veda Praxis, Syahraki Syahrir.

Komitmen Ganda: Keamanan Data dan Privasi Nasabah

Selain sertifikasi ISO/IEC 42001:2023, BCA juga berhasil meraih sertifikasi ISO 27701:2019 untuk Sistem Manajemen Informasi Privasi. Standar internasional ini secara khusus mengatur pengelolaan privasi dan perlindungan data pribadi. Perolehan kedua sertifikasi ini secara bersamaan menunjukkan dedikasi BCA yang tidak hanya terbatas pada kepatuhan terhadap standar global, tetapi juga pada upaya berkelanjutan untuk menjaga keamanan dan kepercayaan nasabah di tengah derasnya arus transformasi digital.

“Kepercayaan nasabah menjadi fondasi utama bagi keberhasilan yang telah diraih oleh BCA sejauh ini. Sertifikasi ISO privasi data dan kelola AI ini menjadi bukti komitmen kami dalam menjaga kepercayaan dan keamanan data nasabah, sekaligus memastikan pemanfaatan teknologi dilakukan secara bertanggung jawab,” ujar Direktur BCA Lianawaty Suwono.

Memperkuat Tata Kelola dan Akuntabilitas AI

Proses sertifikasi ISO 42001 yang dijalani BCA bersama Veda Praxis menekankan pentingnya integrasi kerangka tata kelola AI secara utuh dengan sistem tata kelola perusahaan dan manajemen risiko yang sudah ada. Pendekatan ini bertujuan untuk:

  • Memperkuat struktur akuntabilitas.
  • Meningkatkan kejelasan dalam pengambilan keputusan terkait AI.
  • Memastikan bahwa pemanfaatan AI terintegrasi sebagai bagian integral dari proses bisnis dan pengambilan keputusan, bukan sekadar pemenuhan persyaratan administratif.

Syahraki Syahrir menambahkan bahwa pencapaian ini merupakan tonggak penting bagi industri jasa keuangan. “Ketika AI semakin memengaruhi pengambilan keputusan dan layanan publik, tata kelola AI menjadi isu strategis, bukan lagi sekadar isu teknis. Semoga sertifikasi ini dapat menjadi katalis bagi penguatan praktik penggunaan AI yang bertanggung jawab dan beretika, baik di tingkat industri, nasional, maupun kawasan Asia Tenggara. Kami bangga dapat mendampingi BCA dalam langkah penting ini,” ungkapnya.

Pencapaian BCA dalam meraih sertifikasi ISO/IEC 42001:2023 ini menjadi penanda langkah maju yang signifikan bagi penguatan tata kelola AI di kawasan Asia Tenggara. Di tengah percepatan adopsi AI, tonggak ini menegaskan bagaimana organisasi dapat memimpin dengan menempatkan tata kelola, akuntabilitas, dan kepercayaan publik sebagai pilar utama inovasi. Lebih dari sekadar capaian institusional, langkah BCA ini memberikan arahan yang jelas bagi Indonesia dan negara-negara di kawasan ASEAN dalam membangun praktik tata kelola AI yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Pos terkait