Dandhy Laksono Nobar Film Pesta Babi, Soroti Kegagalan Negara Beri Keadilan di Papua

Diskusi Film “Pesta Babi” Mengangkat Isu Eksploitasi Alam di Papua

Kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film Pesta Babi yang diselenggarakan oleh Koalisi Masyarakat Sipil berhasil menarik perhatian banyak kalangan. Film ini mengangkat isu eksploitasi alam di Papua, dengan sutradara Dandhy Dwi Laksono hadir langsung sebagai pembicara dalam forum diskusi tersebut.

Selain Dandhy, sejumlah tokoh nasional dan aktivis turut hadir dalam acara ini. Mereka antara lain Sudirman Said, Todung Mulya Lubis, Lukman Hakim Saifuddin, hingga Beka Ulung Hapsara. Diskusi ini menjadi wadah untuk membahas berbagai isu terkait kebijakan pemerintah dan dampaknya terhadap masyarakat serta lingkungan.

Perubahan Orientasi Kekuasaan

Sudirman Said, Ketua Institut Harkat Negeri, menyampaikan bahwa terjadi pergeseran orientasi kekuasaan yang semakin menjauh dari kepentingan rakyat. Ia menilai bahwa kebijakan publik dan penunjukan pejabat kini lebih didorong oleh kepentingan elektoral daripada pelayanan masyarakat.

“Ada gejala akut, negara semula alat pembagi kemakmuran pencipta keadilan, direduksi jadi mesin elektoral,” ujarnya. Ia juga mengkritik arah penggunaan anggaran negara yang dinilainya tidak lagi berpihak secara merata kepada masyarakat.

Menurut Sudirman, kerusakan alam di Papua terjadi atas nama pembangunan. “Kenapa ada perusakan alam Papua seperti di film Pesta Babi? APBN dibagi, tapi tidak untuk seluruh rakyat. Pejabat ditunjuk, tidak untuk melayani rakyat,” tegasnya.

Ia menilai bahwa banyak institusi formal seperti DPR dan partai politik tidak lagi responsif terhadap kritik publik. Karena itu, ia mengajak masyarakat sipil dan generasi muda untuk memperkuat konsolidasi.

“Kita terima? Jangan sampai. Bukan dengan melawan, tapi mengorganisasi diri, mempersiapkan diri. DPR lumpuh, partai lumpuh, itu wake up call buat masyarakat sipil bangkit dan bersatu. Lewat forum ini, waktunya menata diri,” tegasnya.

Biaya Politik dan Eksploitasi Sumber Daya Alam

Annisa Nur Agustyati, mantan Direktur Eksekutif Perludem, menyoroti tingginya biaya politik yang mendorong praktik eksploitasi sumber daya alam demi kepentingan elite dan penyandang dana politik.

“Kita bisa melihat secara elektoral, bagaimana elite politik mendapatkan pendanaan. Karena besarnya ongkos politik kita, cara-cara eksploitatif-ekstraktif dilakukan. Dana politik dari pengusaha yang tidak gratis itu dikembalikan servisnya oleh politisi kepada yang membiayai,” ungkap Annisa.

Ia menilai dampak dari relasi antara kekuasaan politik dan modal paling terasa di daerah kaya sumber daya alam seperti Papua. “Alih-alih mendapatkan keadilan distribusi kemakmuran, rakyat Papua justru dihadapkan pada militerisme dan eksploitasi ugal-ugalan,” tuturnya.

Pendekatan Keamanan yang Dominan

Todung Mulya Lubis, aktivis hukum senior, menilai pendekatan keamanan yang dominan di Papua mencerminkan kegagalan negara dalam memperlakukan masyarakat secara adil dan manusiawi.

“Militer hari ini ada di mana-mana. Dari Presiden ke presiden, benih kolonialisme kuat terasa di Papua. Kita kerap lupa, Papua adalah bagian dari Indonesia,” bebernya.

Beka Ulung Hapsara, mantan Komisioner Komnas HAM, juga menyoroti ketimpangan yang terus terjadi di Papua di tengah eksploitasi sumber daya alam yang berkelanjutan. “SDA hilang entah ke mana, meninggalkan mereka dalam ketimpangan. Belum cukup juga, terus dieksploitasi. Saya kira kita harus bisa berkata ‘cukup’ atas penderitaan Papua,” ucap Beka.

Kritik Terhadap Pembangunan

Marco Kusumawijaya, arsitek dan pemikir perkotaan, mengkritik praktik pembangunan yang justru merusak lingkungan dan mengatasnamakan kepentingan publik. Ia mengajak masyarakat untuk menyatakan penolakan secara terbuka.

“Orang-orang itu melakukan atas nama kita. Maka, kita harus nyatakan kita tidak butuh hal-hal itu. Nyatakan sekeras-kerasnya. Kalau tidak, kita malu sebagai orang Indonesia,” ujar Marco.

Penutup: Fungsi Negara yang Harus Diperbaiki

Lukman Hakim Saifuddin, mantan Menteri Agama (Menag), menutup diskusi dengan mengingatkan pentingnya mengembalikan fungsi negara sebagai pihak yang mendistribusikan keadilan. Ia menegaskan hubungan manusia dengan alam perlu diluruskan kembali.

“Kita ini pada hakikatnya hanya ketitipan saja untuk memelihara-merawat alam, bukan menguasai-memiliki,” pungkasnya.

Pos terkait