Postingan anti-vaksin menyebar misinformasi dengan dokumen Pfizer dan WHO tentang hantavirus

Kembali Munculnya Teori Konspirasi Terkait Hantavirus dan Vaksin

Beberapa waktu terakhir, muncul kembali berbagai klaim yang menyebutkan bahwa hantavirus merupakan efek samping dari vaksin Covid-19. Klaim ini didasarkan pada postingan media sosial yang membagikan dokumen dari Pfizer dan tangkapan layar database WHO untuk mendukung argumen mereka. Namun, berdasarkan penjelasan para ahli, klaim tersebut tidak benar dan justru menyesatkan.

Dokumen Pfizer dan Tangkapan Layar Database WHO

Salah satu unggahan di Facebook pada 7 Mei 2026 menyatakan bahwa hantavirus adalah salah satu dari 1.290 efek samping vaksin Pfizer. Unggahan tersebut mencantumkan potongan dokumen dengan subjudul “Analisis Kumulatif Laporan Kejadian Tidak Diinginkan Pasca-Otorisasi” dan menggarisbawahi frasa “infeksi paru-paru hantavirus”.

Di hari yang sama, sebuah postingan di platform X juga menyebarkan klaim serupa dengan menyertakan tangkapan layar dari laman database VigiAccess. Frustrasi “infeksi hantavirus” dan “infeksi paru-paru hantavirus” ditandai dengan kotak merah. Klaim serupa juga muncul di Instagram dan X dalam berbagai bahasa seperti Inggris dan Spanyol.

Penyebab Infeksi Hantavirus

Infeksi hantavirus biasanya terjadi melalui kontak langsung dengan tikus yang terinfeksi atau melalui urin, kotoran, atau air liur hewan tersebut. Menurut data WHO, total kasus hantavirus yang tercatat hingga 15 Mei mencapai 10 orang, termasuk tiga orang yang dilaporkan meninggal. Semua kasus terjadi pada kejadian baru-baru ini di kapal pesiar MV Hondius, yang berlayar dari Argentina menuju Cape Verde.

WHO menyatakan bahwa risiko penyebaran virus kepada populasi umum sangat rendah. Meski begitu, munculnya kasus baru telah membangkitkan kembali teori konspirasi lama terkait vaksin yang pernah beredar selama pandemi.

Penjelasan Ahli tentang Vaksin mRNA

Vaksin mRNA milik Pfizer tidak mengandung virus hidup atau virus yang dinonaktifkan, sehingga tidak mampu menyebarkan infeksi virus apa pun. Dr Wilson Lam Wai-shun, presiden lembaga Hong Kong Society for Infectious Diseases, menjelaskan bahwa vaksin tersebut tidak dapat menyebabkan infeksi hantavirus.

Stefan Vieths, presiden dari Paul Ehrlich Institute, menambahkan bahwa pihaknya tidak mengetahui adanya mekanisme apa pun yang dapat membuat vaksin mRNA menimbulkan infeksi hantavirus. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada bukti yang menyatakan bahwa vaksin Covid-19 melemahkan sistem imun atau membuat individu menjadi rentan terhadap infeksi virus lainnya.

Kesalahan Memahami Dokumen

Penelusuran menggunakan kata kunci di Google menemukan dokumen Pfizer yang beredar di situs organisasi nirlaba Public Health and Medical Professionals for Transparency. Organisasi tersebut mengajukan permintaan melalui Undang-undang Keterbukaan Informasi pada 2021 untuk mengakses data vaksin Pfizer.

Dokumen tersebut memang menyebutkan “hantavirus pulmonary infection” atau “infeksi paru-paru hantavirus” di halaman 33 bersama ratusan penyakit lainnya. Namun, lampiran tersebut hanya berisi daftar kondisi medis yang telah ditentukan sebelumnya oleh otoritas berwenang dan kelompok ahli untuk dipantau lebih ketat.

Catatan pada laporan lengkap menyatakan bahwa daftar tersebut “tidak serta-merta mengindikasikan” bahwa suntikan vaksin menyebabkan kondisi tersebut. Sebaliknya, kejadian tersebut mungkin disebabkan oleh penyakit bawaan atau faktor lain seperti riwayat medis atau penggunaan obat secara bersamaan.

Tujuan Sistem Pelaporan WHO

Database VigiAccess milik WHO menyebutkan bahwa informasi yang dipublikasikan berkaitan dengan gejala-gejala yang terpantau setelah penggunaan produk obat. Hal ini berarti bisa saja disebabkan oleh faktor lain dan bukan akibat langsung dari obat tersebut. Selain kondisi medis, daftar tersebut juga mencakup hal-hal seperti “gigitan binatang”, “hampir tenggelam”, dan “luka tembakan”.

Vieths menjelaskan bahwa tujuan dari sistem pelaporan tersebut adalah untuk mendeteksi tanda-tanda awal reaksi medis yang tidak diinginkan. Jika risiko sinyal diidentifikasi, investigasi lanjutan akan dilakukan untuk menentukan apakah reaksi yang dilaporkan sebenarnya merupakan efek samping dari obat.

WHO menyatakan bahwa reaksi buruk yang muncul akibat vaksin Covid sangat jarang terjadi, mengutip data dari miliaran dosis vaksin yang telah diberikan secara global.

Pos terkait