Indeks Wall Street Naik, S&P 500 dan Nasdaq Capai Rekor Tertinggi

Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) secara umum ditutup naik pada perdagangan Senin (27/4). Kenaikan ini terjadi di tengah ketegangan yang meningkat antara AS dan Iran, serta situasi di Selat Hormuz yang berdampak pada kenaikan harga minyak.

Indeks S&P 500 menguat sebesar 0,12% ke level 7.173,91, sedangkan Nasdaq Composite melonjak 0,20% menjadi 24.887,10. Kedua indeks ini sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa selama sesi perdagangan. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average mengalami penurunan sebesar 62,92 poin atau 0,13% ke level 49.167,79.

Analis dari Vital Knowledge, Adam Crisafulli, menilai bahwa eskalasi konflik masih dalam batas moderat dan berpotensi mereda. “Meskipun ini merupakan sentimen negatif yang moderat, kami tetap menilai konflik ini berada pada jalur de-eskalasi,” ujarnya dikutip dari CNBC, Selasa (28/4).

Ketegangan memuncak setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana pengiriman utusan khusus AS yaitu Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Pakistan untuk membahas gencatan senjata terkait Iran. Trump menyatakan bahwa negosiasi cukup dilakukan melalui sambungan telepon.

Trump menulis di Truth Social, “Terlalu banyak waktu terbuang untuk perjalanan, terlalu banyak pekerjaan!” Ia juga menegaskan posisi tawar AS dalam negosiasi sebagai pemegang semua kartu.

Dari pihak Iran, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baqaei menyatakan bahwa belum ada agenda pertemuan antara Teheran dan Washington dalam waktu dekat.

Situasi geopolitik tersebut turut mendorong lonjakan harga minyak. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 2,09% menjadi US$ 96,37 per barel, sementara minyak Brent sebagai acuan global melonjak 2,75% ke level US$ 108,23 per barel.

Di sisi lain, Iran dilaporkan mengajukan proposal baru kepada AS untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri konflik, dengan syarat pembicaraan nuklir ditunda. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengonfirmasi bahwa Trump bersama tim keamanan nasional telah membahas usulan tersebut.

Chief Investment Officer, Gabriel Shahin, mengatakan bahwa meskipun pasar saham dalam sepekan terakhir mencatat sejumlah rekor baru, ketegangan di kawasan Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen investor.

“Harga minyak masih akan sangat penting, karena itu merupakan pendorong utama,” kata Shahin. Ia menambahkan stabilitas pasar kemungkinan baru tercapai ketika situasi di Selat Hormuz lebih terkendali.

Namun demikian, Shahin memperkirakan pasar berpotensi mengalami periode yang lebih tenang dalam sepekan ke depan, tergantung pada hasil laporan keuangan emiten.

Pekan ini menjadi periode tersibuk musim laporan keuangan, dengan lima perusahaan dari kelompok Magnificent Seven dijadwalkan merilis kinerjanya.

Pos terkait