Jepang 2026: Kubo Ungkap Kekuatan dan Kekompakan Tim

Transformasi Samurai Biru: Jepang Semakin Matang Jelang Piala Dunia 2026

Jepang kini memancarkan aura kepercayaan diri yang kian meningkat pasca mengalami transformasi signifikan sejak gelaran Piala Dunia 2022 di Qatar. Pemain kunci seperti Takefusa Kubo menilai bahwa tim berjuluk Samurai Biru telah mencapai kedewasaan mental dan taktik yang lebih baik. Para pengamat sepak bola pun sepakat, Jepang bukan lagi sekadar tim kuda hitam, melainkan kekuatan yang patut diperhitungkan berkat komposisi pemain yang merumput di klub-klub top Eropa, dan memiliki potensi besar untuk melaju jauh di Piala Dunia 2026.

Perjalanan Menuju Kedewasaan

Kegagalan meraih pencapaian bersejarah untuk pertama kalinya menembus perempat final Piala Dunia 2022 di Qatar, yang berujung pada kekalahan dramatis melalui adu penalti melawan Kroasia, meninggalkan luka mendalam sekaligus menjadi titik balik bagi timnas Jepang. Pada edisi tersebut, Takefusa Kubo menjadi salah satu pemain termuda dalam skuad asuhan Hajime Moriyasu, dengan usianya yang baru menginjak 21 tahun.

Empat tahun berlalu, transformasi Jepang terasa begitu nyata. Peningkatan kualitas individu para pemain, akumulasi pengalaman bertanding di level tertinggi, serta kedewasaan taktik telah membawa Samurai Biru ke level yang berbeda. Sejak debutnya di Piala Dunia pada tahun 1998, Jepang secara konsisten menunjukkan progres, dengan pencapaian terbaiknya sejauh ini adalah menembus babak 16 besar. Kini, dengan bekal perjalanan dan pengalaman yang telah dilalui, Jepang menatap Piala Dunia 2026 dengan optimisme tinggi, siap untuk mengukir sejarah baru.

“Ada momen yang membuat saya menyadari betapa tangguhnya kami saat ini,” ujar Kubo dalam sebuah kesempatan. “Itu terjadi sekitar pertandingan keempat atau kelima dalam kualifikasi Asia. Kami sempat unggul enam poin, dan momen itu menyadarkan saya betapa kuatnya kami sekarang.”

Kubo melanjutkan, “Saya merasa kami menjadi lebih percaya diri. Ini bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi juga tentang cara kami bermain dan seberapa padu kami sebagai sebuah tim.”

Pelajaran dari Qatar 2022

Pengalaman pahit di Piala Dunia 2022, di mana setiap detail pertandingan sangat krusial dan kelengahan sekecil apapun dapat berakibat fatal, memberikan pelajaran berharga bagi Kubo dan tim. Kekalahan dari Kroasia, yang akhirnya finis di posisi ketiga, menjadi bukti betapa tipisnya margin antara kesuksesan dan kegagalan di turnamen sebesar Piala Dunia.

“Pertandingan itu benar-benar menunjukkan kepada saya betapa sulitnya mengubah sejarah,” ungkapnya. “Baik itu karena intensitas kami dalam pertandingan atau detail-detail kecil yang gagal kami eksekusi dengan baik, kami benar-benar menyadari bahwa ada sesuatu yang kurang.”

“Di Piala Dunia, jalannya pertandingan ditentukan oleh margin yang sangat tipis. Saya rasa sangat penting untuk menangani setiap aspek permainan secermat mungkin,” tegasnya.

Kekuatan Skuad: Dominasi Pemain Abroad

Salah satu indikator utama kemajuan Jepang adalah komposisi skuad yang semakin bertumpu pada pemain-pemain yang berkarier di luar negeri. Jika pada Piala Dunia 2022, Jepang membawa 19 dari 26 pemain yang bermain di luar negeri, untuk Piala Dunia 2026, komposisinya semakin mengerucut pada pemain abroad. Hajime Moriyasu hanya membawa tiga pemain lokal, sementara 24 pemain lainnya tersebar di berbagai liga top Eropa dan dunia.

Kondisi ini semakin mempertebal rasa percaya diri Kubo, terlebih dengan rentetan hasil positif yang diraih Jepang dalam empat tahun terakhir. Kemenangan atas tim-tim kuat seperti Skotlandia dan Inggris dalam FIFA Matchday Maret lalu, meskipun dengan skor tipis, menunjukkan kedalaman dan kualitas skuad Jepang.

“Kami mengubah pendekatan taktis berdasarkan siapa lawan yang kami hadapi, tetapi secara mental kami menghadapi setiap pertandingan dengan cara yang sama,” beber Kubo. “Tentu kami menghormati lawan, tetapi kami percaya bahwa kami sepenuhnya mampu untuk menang.”

Pandangan Pengamat: Jepang Bukan Lagi Kuda Hitam

Perkembangan pesat timnas Jepang turut diamati oleh para pengamat sepak bola. Adrian, seorang pengamat dari Spieltag Indonesia, membandingkan generasi emas Jepang saat ini dengan timnas Norwegia di masa lalu.

“Jepang di dua Piala Dunia terakhir tampil luar biasa, generasinya seperti Norwegia, generasi emas ditambah dengan kebersamaan Hajime Moriyasu juga yang bermain di kompetisi besar. Penampilan mereka secara permainan udah selevel bahkan mungkin melebihi beberapa timnas di Eropa,” ujar Adrian.

Ia menambahkan, “Lengkap di grup ini. Belanda yang sudah household yang di setiap turnamen tampil bagus, ditambah dengan kuda hitamnya Jepang dan Swedia. Jadi ini yang berpotensi yang akan menyulitkan Belanda. Tapi saya melihat Belanda menjuarai Grup F.”

Namun, pandangan yang berbeda datang dari pengamat bola asal Semarang, Gigih Windar. Ia menegaskan bahwa menyebut Jepang sebagai tim kuda hitam sudah tidak relevan lagi.

“Jepang itu sudah bukan lagi kuda hitam. Kita tidak bisa menyebut Jepang itu sebagai kuda hitam. Itu adalah hal yang sangat ketinggalan zaman menyebut Jepang sebagai kuda hitam,” tegas Gigih.

Gigih menyoroti kekuatan skuad Jepang yang menurutnya “mewah setengah mati”, merujuk pada banyaknya pemain Jepang yang berkarier di Eropa. Ia memprediksi Jepang memiliki potensi untuk melaju jauh, bahkan melebihi capaian sebelumnya, meskipun menembus semifinal masih menjadi tantangan besar.

“Jepang kalau disebut unggulan sudah ia, tapi kalau melaju jauh belum sepertinya. Paling ya perempat final. Semifinal belum,” katanya.

Di Piala Dunia 2026, Jepang tergabung di Grup F bersama Belanda, Swedia, dan Tunisia. Pertandingan perdana mereka akan menghadapi Belanda pada 15 Juni, dilanjutkan dengan Tunisia pada 21 Juni, dan laga penentuan melawan Swedia pada 26 Juni. Dengan transformasi yang telah mereka jalani, Jepang siap memberikan kejutan dan mengukir sejarah baru di panggung dunia.

Pos terkait