Santriwati Korban Pelecehan Kiai Hilang, Diintai Utusan Pelaku

Hilangnya Korban Dugaan Pencabulan di Bangkalan: Misteri yang Menyelimuti Keluarga

BANGKALAN – Sebuah peristiwa mencekam menyelimuti sebuah keluarga di Kecamatan Galis, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Seorang anak perempuan, yang merupakan korban dari kasus dugaan pencabulan yang melibatkan dua anak kiai dari sebuah pondok pesantren di wilayah tersebut, dilaporkan menghilang sejak Rabu, 7 Januari 2026. Kepergiannya secara misterius ini menambah lapisan kekhawatiran dan ketegangan di tengah situasi yang sudah pelik.

Keluarga korban mengungkapkan bahwa sebelum kejadian hilangnya anak mereka, ada dua orang yang datang bertandang ke rumah mereka. Kedatangan dua individu ini diduga kuat merupakan utusan dari salah satu pelaku yang diidentifikasi dengan inisial S. Kehadiran mereka menimbulkan pertanyaan dan kecurigaan, terutama mengingat konteks kasus pencabulan yang sedang dihadapi keluarga tersebut.

Kronologi Malam yang Penuh Ketegangan

Psikolog yang mendampingi korban, Mutmainah, menceritakan detail kejadian yang terjadi pada malam nahas tersebut. Pada Selasa malam, 6 Januari 2026, ibu korban masih sempat melihat putrinya duduk santai menonton televisi di ruang keluarga. Sekitar pukul 00.30 WIB pada hari Rabu, sang ibu kembali melihat korban masih terpaku pada layar televisi dan mengingatkan untuk segera beristirahat.

Sang ibu kemudian masuk ke kamar tidurnya dan berbaring. Ia sengaja membiarkan pintu kamar terbuka agar tetap bisa memantau keberadaan putrinya dari dalam kamar. Namun, tak lama kemudian, ia terlelap. Ketika terbangun pada pukul 01.00 WIB, ia segera menengok ke arah ruang televisi. Keterkejutan melanda ketika ia mendapati korban tidak lagi berada di tempatnya.

Panik, ibu korban segera memanggil nama putrinya, namun tidak ada jawaban. Teriakan paniknya sontak membangunkan anggota keluarga lainnya. Pencarian segera dilakukan di seluruh penjuru rumah, namun korban tidak ditemukan. Keadaan semakin mengkhawatirkan karena korban tidak membawa ponselnya, dan televisi serta kipas angin di ruang keluarga masih menyala, menandakan kepergiannya yang mendadak dan tanpa persiapan.

Pencarian yang Belum Membuahkan Hasil

Malam itu juga, pihak keluarga tak tinggal diam. Mereka melakukan pencarian intensif, menjelajahi area dari Kecamatan Galis hingga Kecamatan Blega, bahkan menyusuri arah barat hingga ke wilayah Suramadu. Namun, segala upaya tersebut belum membuahkan hasil. Hingga saat ini, korban masih belum ditemukan dan belum ada kabar mengenai keberadaannya.

Pesan Misterius dan Jejak Digital

Yang menambah kejanggalan dalam kasus ini adalah pengakuan dari pihak keluarga. Dua hari sebelum korban menghilang, dua orang tak dikenal sempat datang ke rumah mereka dan bertemu dengan korban. Berdasarkan keterangan dari dua orang tersebut setelah ditemukan oleh keluarga, mereka mengaku disuruh oleh seseorang berinisial S untuk menyampaikan sebuah pesan kepada korban. Alasan mereka menyampaikan pesan secara langsung diduga karena korban sudah tidak bisa lagi dihubungi melalui telepon.

Lebih lanjut, penelusuran yang dilakukan melalui media sosial Instagram korban mengungkap adanya pesan Direct Messenger (DM) dari akun yang diduga milik S. Pesan-pesan tersebut berisi ajakan untuk menikah siri dan berbagai bujukan rayuan terhadap korban. Hal ini semakin menguatkan dugaan keterlibatan S dalam peristiwa hilangnya korban.

Proses Hukum dan Perkembangan Kasus

Menyikapi hilangnya korban, pihak keluarga telah resmi melaporkan kejadian ini ke Polres Bangkalan pada Kamis, 8 Januari 2026. Hingga kini, belum ada perkembangan signifikan dari laporan tersebut, dan korban masih belum berhasil ditemukan.

Kasus ini berawal dari dugaan aksi pencabulan yang dilakukan oleh UF, salah satu pengajar sekaligus anak dari kiai di pondok pesantren di Kecamatan Galis. Setelah kejadian tersebut, korban melaporkannya kepada orang tuanya, yang kemudian dilanjutkan dengan laporan resmi ke Polda Jatim pada Senin malam, 1 Desember 2025.

Pihak kepolisian telah melakukan serangkaian pemeriksaan, dan tersangka UF diserahkan pada Rabu, 10 Desember 2025. Dari pendalaman kasus lebih lanjut, terungkap bahwa pelaku tidak hanya satu orang. Korban mengaku bahwa aksi pencabulan juga dilakukan oleh S, yang ternyata adalah adik dari tersangka UF. Fakta inilah yang kemudian mendorong pihak keluarga untuk kembali melaporkan S atas dugaan tindak pencabulan terhadap korban, sebelum akhirnya korban dilaporkan hilang. Misteri hilangnya korban ini masih terus diselidiki, menambah kompleksitas kasus yang sudah menggemparkan ini.

Pos terkait