Tren Fashion Tanpa Batas Gender di Jepang
Tren fashion tanpa batas gender semakin menguat di Jepang, khususnya di kalangan Generasi Z. Gaya berpakaian kini lebih menonjolkan ekspresi diri, tanpa terlalu terikat norma tradisional tentang pakaian pria dan wanita. Hal ini mencerminkan perubahan besar dalam cara masyarakat Jepang memandang identitas dan ekspresi melalui pakaian.
Salah satu contoh tren ini adalah semakin lazimnya pria menggunakan payung parasol saat musim panas. Di sisi lain, perempuan mulai tertarik pada item fashion yang selama ini identik dengan pria, seperti dasi. Perubahan ini tidak hanya terlihat dalam gaya pribadi, tetapi juga dalam strategi industri mode.
Perusahaan Mode Menyesuaikan Produk
Banyak pelaku industri mode mulai menyesuaikan produk dan strategi penjualan mereka untuk mengikuti tren ini. Salah satunya adalah Aoyama Trading, sebuah raksasa fesyen pria. Mereka meluncurkan produk Skinny Tie pada Januari lalu. Dasi ini dirancang khusus untuk perempuan dengan bentuk lebih tipis, lebih pendek, dan simpul yang lebih kecil dibanding dasi pria.
Selain itu, Aoyama Trading juga menjual setelan uniseks di area pakaian pria maupun wanita di toko mereka. Langkah ini diambil seiring perubahan selera konsumen muda. Survei yang dilakukan oleh perusahaan terhadap sekitar 850 pengguna aplikasi perempuan tahun lalu menunjukkan hampir separuh responden tertarik pada gaya berpakaian yang dirancang untuk pria.
Menurut perusahaan, item fashion pria kini justru diminati perempuan muda. Dengan semakin sedikit pekerja yang mengenakan jas formal ke kantor, perusahaan tersebut juga mencari pasar baru, termasuk dari pelanggan perempuan Gen Z.
Perubahan Selera Konsumen
Fenomena serupa terlihat di Sanyo Shokai, sebuah perusahaan apparel besar. Mereka mendapati bahwa tas kecil yang awalnya dirancang untuk perempuan justru laris di kalangan pria. Penjualan bulan pertama tote bag makan siang yang dirilis akhir November lalu mencapai sekitar tiga kali lipat dari target perusahaan. Pembeli utamanya justru pria berusia 30 hingga 40 tahun.
Banyak dari mereka bahkan membeli boneka beruang kecil untuk menghias tas tersebut. Detail ini menunjukkan pergeseran selera yang makin cair. Tren lain yang ikut naik adalah penggunaan parasol oleh pria. Pembuat payung Waterfront mencatat 23 persen pria berusia 30-an mulai memakai parasol tahun lalu, seiring suhu musim panas yang makin ekstrem.
Pengaruh Perubahan Iklim
Perusahaan pakaian pria Aoki juga melihat banyak pembeli payung parasol di tokonya adalah laki-laki. Menurut perusahaan, toko pakaian kerja membuat pria merasa lebih nyaman membeli produk tersebut. Perubahan iklim dan cuaca ekstrem menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi tren ini.
Secara keseluruhan, tren fashion tanpa batas gender di Jepang menunjukkan bahwa masyarakat kini lebih terbuka terhadap berbagai bentuk ekspresi diri melalui pakaian. Perubahan ini tidak hanya terjadi di kalangan Generasi Z, tetapi juga semakin diterima oleh generasi yang lebih tua. Dengan demikian, industri mode di Jepang terus berkembang untuk menyesuaikan diri dengan perubahan selera dan kebutuhan konsumen yang semakin beragam.





