Uston Nawawi Tak Lagi Jadi Asisten Pelatih! Ini Daftar Staf Persebaya Era Bernardo Tavares


Perubahan besar terjadi dalam struktur kepelatihan Persebaya Surabaya. Uston Nawawi, yang sebelumnya menjabat sebagai asisten pelatih, kini resmi berubah peran menjadi direktur teknik tim. Keputusan ini menjadi fokus utama dalam era kepemimpinan Bernardo Tavares yang mulai menunjukkan arah jelas.

Pengumuman perubahan jabatan Uston Nawawi tercatat dalam dokumen DSP I.League sebelum laga PSIM Yogyakarta vs Persebaya Surabaya digelar. Perubahan ini terjadi di tengah hasil positif yang diraih oleh Green Force di pekan ke-18. Dalam pertandingan tersebut, Persebaya Surabaya meraih kemenangan meyakinkan 3-0 atas PSIM Yogyakarta di Stadion Sultan Agung Bantul, Minggu sore (25/1/2026).

Tiga gol Persebaya Surabaya dicetak oleh Gali Freitas, Bruno Paraiba, dan Rachmat Irianto. Hingga peluit panjang dibunyikan, skor 3-0 tetap bertahan. Kemenangan ini memberi tiga poin penting bagi Persebaya Surabaya, yang kini duduk di peringkat keenam klasemen sementara Super League 2025/2026 dengan total 31 poin.

Namun, perhatian publik tidak hanya tertuju pada hasil pertandingan. Perubahan peran Uston Nawawi menjadi direktur teknik memicu diskusi hangat di kalangan Bonek. Sebelumnya, Uston dikenal sebagai figur sentral di tim pelatih. Kini, ia beralih fokus pada aspek teknis dan pengembangan tim secara menyeluruh.

Di bawah struktur baru ini, Bernardo Tavares tetap menjabat sebagai pelatih kepala. Ia mendapat dukungan dari staf yang semakin lengkap. Sementara itu, posisi manajer tim diisi oleh Sidiq Maulana Tualeka, dan Andri Suyoko menjalankan tugas sebagai sekretaris tim.

Untuk urusan teknis lapangan, Bernardo Tavares didampingi oleh Paulo Renato Goncalves Duarte dan Shin Sanggyu sebagai asisten pelatih. Felipe Martins Goncalves bertanggung jawab sebagai pelatih kiper. Tim medis juga diperkuat oleh Ahmad Ridhoi sebagai dokter tim, serta Yogha Rasta Aditya Chasantana dan Dani Maulana Nugraha sebagai fisioterapis.

Sutrisno mengemban peran kit man untuk urusan logistik tim. Susunan staf ini menandai dimulainya era baru Persebaya Surabaya di bawah kepemimpinan Bernardo Tavares. Hasil di Bantul menjadi bukti awal solidnya kerja tim tersebut.

Bernardo Tavares menilai anak asuhnya tampil jauh lebih baik di babak kedua. Ia melihat respons positif dari para pemain yang disiplin dan agresif. “Saya rasa tim kami di babak kedua banyak berkembang, begitu juga para pemain yang bisa masuk ke dalam permainan,” ujarnya usai pertandingan.

Pelatih berusia 45 tahun ini menilai kemenangan Persebaya Surabaya layak diraih. Dominasi permainan dan jumlah peluang menjadi pembeda utama di laga tersebut. “Dan saya rasa di babak kedua, kami pantas menang karena kami menciptakan banyak peluang,” tegas mantan pelatih PSM Makassar tersebut.

Meski menang telak, Bernardo Tavares tetap mengingatkan pentingnya menjaga sikap. Ia meminta timnya tidak larut dalam euforia kemenangan. “Tetapi kita harus rendah hati, karena ketika kita menang, bukan berarti semuanya baik, ketika kita kalah, bukan berarti semuanya buruk,” tegasnya.

Kemenangan atas PSIM Yogyakarta menjadi modal penting bagi Persebaya Surabaya. Konsistensi hasil positif dibutuhkan untuk menjaga posisi di papan atas klasemen. Di sisi lain, perubahan jabatan Uston Nawawi memberi warna tersendiri. Peran direktur teknik diharapkan memperkuat kesinambungan filosofi permainan Persebaya Surabaya.

Uston memiliki kedekatan emosional dengan klub dan pemain. Pengalamannya diyakini mampu membantu proses pengembangan tim jangka panjang. Era Bernardo Tavares bersama struktur staf baru ini mulai menemukan ritmenya. Kombinasi hasil di lapangan dan pembenahan organisasi menjadi sinyal positif bagi Persebaya Surabaya.

Dengan kemenangan di Bantul dan susunan staf yang solid, Persebaya Surabaya menatap laga-laga berikutnya dengan optimisme. Green Force perlahan membangun fondasi untuk bersaing lebih konsisten di Super League 2025/2026.

Pos terkait