Dugaan Ijazah Palsu: Rismon Hasiholan Sianipar Dilaporkan ke Polda Metro Jaya
Sejumlah elemen pendukung Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), melaporkan Rismon Hasiholan Sianipar ke Polda Metro Jaya pada Jumat, 13 Februari 2026. Laporan ini terkait dengan dugaan penggunaan ijazah palsu. Rismon, yang dikenal sebagai Ahli Forensik Digital dan sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tudingan ijazah palsu Jokowi, kini menghadapi tudingan serupa terkait pendidikannya sendiri.
Ketua Jokowi Mania, Andi Azwan, menyatakan bahwa laporan tersebut fokus pada ijazah S2 dan S3 Rismon yang diduga dikeluarkan oleh Universitas Yamaguchi. “Kami melaporkan saudara Rismon Hasiholan Sianipar mengenai ijazah yang diduga palsu, ijazah S2 dan S3 Yamaguchi,” ujar Andi Azwan.
Pelapor, Taufik Bilhaki, mengklaim bahwa ijazah magister (S2) dan doktoral (S3) atas nama Rismon, yang disebut diterbitkan oleh Universitas Yamaguchi, diduga tidak sah. Pihaknya telah melakukan upaya pengajuan laporan beberapa kali sebelumnya, namun kali ini laporan tersebut diterima dan teregistrasi dengan nomor LP/B/1210/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA tertanggal 13 Februari 2026.
Bilhaki menambahkan bahwa pihaknya telah mendapatkan konfirmasi langsung dari Universitas Yamaguchi di Jepang. “Kami mendapatkan informasi dari kampus Yamaguchi Jepang, yang bersangkutan identitas ijazahnya tidak pernah diterbitkan oleh kampus tersebut,” jelas Bilhaki.
Kuasa hukum Bilhaki, Lechumanan, mengungkapkan bahwa ini bukan laporan pertama terhadap Rismon. Terdapat dua laporan sebelumnya yang telah didaftarkan di Polres Jakarta Selatan. Lechumanan mendesak kepolisian untuk segera menindaklanjuti dan melimpahkan berkas perkara sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku.
Dalam laporan terbaru ini, Rismon dilaporkan melanggar:
* Pasal 391 dan 392 juncto 272 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Baru, yang berkaitan dengan dugaan penggunaan ijazah dan gelar akademik palsu.
* Pasal 69 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
“Ya, saya minta secara subjektif, objektif, lakukan hukum!” tegas Lechumanan.
Respons Rismon Sianipar dan Tudingan Rony Teguh
Menanggapi laporan tersebut, Rismon Hasiholan Sianipar menyatakan kesiapannya untuk mengikuti seluruh proses hukum yang berlaku. Ia juga berencana menempuh langkah hukum lebih lanjut apabila tuduhan yang dialamatkan kepadanya terbukti tidak benar. “Saya menghargai hak hukum mereka. Saya akan ladeni. Tapi ada konsekuensi, akan saya laporkan balik kalau tidak terbukti,” ujar Rismon saat ditemui secara terpisah.
Di sisi lain, seorang peneliti Sistem Informasi dari Hokkaido, Jepang, bernama Rony Teguh, juga turut mengemukakan temuannya terkait riwayat pendidikan Rismon Sianipar. Rony mengklaim bahwa ijazah Rismon yang disebut berasal dari universitas di Jepang tidak dapat ditemukan.
Rony menjelaskan bahwa biasanya, mahasiswa yang mendapatkan beasiswa di Jepang akan melalui proses pengajuan program studi, baik Master maupun Doktoral. Pihak universitas akan menguji kemampuan mahasiswa tersebut. Jika terdapat ketidakmampuan, tingkat studi mahasiswa bisa diturunkan atau mereka bisa masuk sebagai “riset student” terlebih dahulu.
Temuan Rony Teguh lainnya adalah terkait prosiding milik Rismon Sianipar yang ditulis pada tahun 2006. Menurut Rony, prosiding merupakan kumpulan makalah atau artikel dari seminar atau pertemuan ilmiah, yang dianggap sebagai tingkat kasta terendah dalam sebuah penelitian karena hanya menampilkan data baru yang belum bisa dijadikan paper utama.
Lebih lanjut, Rony Teguh menyoroti posisi Rismon sebagai penulis keempat dalam sebuah paper. “Biasanya penulis ke 4 itu penulis pembantu. Hanya bantu, kadang ngedit, yang menjadi penulis utama The First Outers itu penulis utamanya. Dia bekerja dari analisis, menulis, memverifikasi sampai disodorkan ke profesornya,” jelas Rony.
Rony mengaku telah memeriksa tesis milik Rismon Sianipar dan tidak menemukannya di Universitas Yamaguchi. “Saya juga melihat ini ada kecurigaan, bukan hanya curiga tapi sudah dipastikan 100 persen. Saya cek ke Yamadai, Yamaguchi Daigaku universitas di Yamaguchi. Saya tulis dalam bahasa Jepang bahwa yang bersangkutan tesis dengan master yang tertulis di CV itu tidak ada,” ungkapnya.
Menurutnya, sistem di Jepang sangat teliti dalam memeriksa informasi. “Di Jepang itu sewaktu dia menerima informasi dia mengevaluasinya bertingkat. Dia cek ke fakultas bahkan departemen jurusannya, dan itu tidak ditemukan sama sekali,” tambah Rony Teguh.
Rony juga meragukan keaslian ijazah Rismon yang diklaim berasal dari Universitas Yamaguchi. Ia menjelaskan bahwa ijazah dari universitas di Jepang biasanya dikeluarkan dalam dua bahasa: Kanji dan Bahasa Inggris. “Jadi kalau ngedit yang Bahasa Inggrisnya aja yang nipu-nipu lah. Tapi kalau kanjinya punya presisi dan otentikasi sangat sulit dilakukan modifikasi dan mereka punya standar untuk pengecekan,” katanya.
Rismon Sianipar sempat menunjukkan ijazah Jepang melalui siaran langsung di kanal YouTube Balige Academy, mengklaim ijazahnya asli karena dicap basah. Namun, Rony Teguh menanggapi dengan menyatakan bahwa kertas ijazah dari Universitas Yamaguchi seharusnya berwarna kuning, bukan putih seperti yang ditunjukkan Rismon.
Rismon juga menunjukkan transkrip nilai yang ia peroleh. Rony merasa format transkrip tersebut tidak lazim, berbeda dengan transkrip nilai standar universitas di Jepang yang biasanya mencakup kolom nama, tempat tanggal lahir, nomor mahasiswa, mata kuliah yang diambil, tahun pengambilan, nilai, dan cap di bagian bawah.
Rismon Sianipar Akan Melaporkan Balik
Menyikapi tudingan dari Josua M Sinambela dan Rony Teguh, Rismon Sianipar menyatakan bahwa ia telah melaporkan masalah ini kepada pihak pengacara. “Latar belakang pendidikan sudah saya laporkan ke pengacara tapi kita hemat energi, setelah ini baru kita laporkan pencemaran nama baik,” kata Rismon dalam sebuah wawancara di YouTube Mosato Doc.
Ia menegaskan kembali bahwa ia telah menunjukkan sertifikat dan transkrip nilainya, yang mencakup 7 mata kuliah dengan IPK yang memenuhi syarat pendidikannya.
Dalam kesempatan lain, Rismon menantang Josua dan Rudy untuk bertemu secara langsung guna menguji keaslian ijazah Jokowi. “Mentalitas orang kalau di online seolah hebat, kalau face to face itu masalah mental lho. Saya sudah sering berhadapan dengan orang di online itu seolah ngomong selangit. Contoh Silfester, kemarin ketemu juga jaga sikap. Jadi jangan apa,” ujarnya. Ia bahkan menawarkan bantuan untuk mencari sponsor akomodasi jika mereka bersedia datang.
Sementara itu, Roy Suryo sempat melontarkan komentar yang menyindir Josua M Sinambela, menyatakan bahwa kemampuan Josua mungkin hanya sebatas menyanyi.





