Eduwisata Mangrove Tapak Tugurejo, Tempat Wisata yang Tetap Bertahan di Semarang
Eduwisata Mangrove Tapak Tugurejo menjadi salah satu destinasi wisata yang tak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Kota Semarang. Berada di pesisir barat kota, tempat ini menyajikan pemandangan hutan mangrove yang indah dan unik. Selain itu, pengunjung juga bisa menikmati berbagai aktivitas edukasi yang menarik.
Kawasan wisata ini dikelola oleh komunitas Pegiat Lingkungan dari Perkumpulan Pemuda Remaja Pencinta Alam Tapak (Prenjak) dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tapak. Kehadiran mereka menjadikan Eduwisata Mangrove Tapak sebagai satu-satunya wisata mangrove yang tetap bertahan di Kota Semarang. Sebab, banyak wisata serupa telah hilang akibat abrasi.
Aktivitas yang Menarik untuk Dicoba
Saat mengunjungi Eduwisata Mangrove Tapak, pengunjung akan disuguhi pemandangan hutan mangrove melalui kegiatan susur sungai. Tidak hanya itu, pengunjung juga bisa melakukan wisata edukasi seperti menanam mangrove atau sekadar memancing di area tambak. Paket wisata yang ditawarkan mencakup aktivitas tersebut dengan tarif yang terjangkau.
Biaya masuk untuk pengunjung adalah Rp 5 ribu per orang, sementara biaya parkir sebesar Rp2 ribu untuk motor dan Rp5 ribu untuk mobil. Untuk paket wisata susur sungai dan tanam mangrove, harga yang ditawarkan adalah Rp150 ribu per orang. Jika ingin menggunakan jasa guide, biayanya naik menjadi Rp300 ribu.
Pengunjung yang Terus Meningkat
Mayoritas pengunjung ke Eduwisata Mangrove Tapak berasal dari kalangan pelajar, mulai dari TK hingga mahasiswa. Mereka datang untuk belajar tentang mangrove atau mengenal produk olahannya. Selain itu, ada juga wisatawan yang datang untuk menikmati suasana hutan mangrove dan sekadar melepas penat dari rutinitas harian.
Data dari komunitas Prenjak menunjukkan bahwa jumlah kunjungan wisatawan meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2023, tercatat sekitar 7 ribu wisatawan. Tahun 2024, angkanya meningkat menjadi 8.100 kunjungan, sedangkan pada tahun 2025 mencapai 9.500 wisatawan. Komunitas Prenjak berharap tempat ini tetap diminati masyarakat dan terus dipromosikan.
Ancaman dari Proyek Reklamasi
Sayangnya, Eduwisata Mangrove Tapak kini menghadapi ancaman dari rencana reklamasi hutan mangrove di pesisir Tugurejo. Di sisi barat juga sedang dibangun proyek perluasan kawasan Industri Wijaya Kusuma yang berpotensi mengancam kondisi hutan mangrove.
Menurut Eko Nugroho, Pelindung Abrasi dari Komunitas Prenjak, pemerintah kota harus memperhatikan situasi ini. Ia berharap Eduwisata Mangrove Tapak dapat dimasukkan sebagai zona konservasi. “Tempat ini tidak hanya menjadi wisata, tetapi juga sebagai benteng dari ancaman abrasi,” ujarnya.
Strategi Pengembangan Wisata Alam
Hanung Triyono, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jawa Tengah, menyatakan bahwa wisata alam menjadi andalan di Jawa Tengah termasuk Kota Semarang. Pada tahun 2025, tercatat sebanyak 759 wisata alam dari total 1.645 tempat wisata. Sisanya adalah wisata budaya dan buatan.
Ia menyarankan agar pengelola wisata alam melakukan branding ikonik dan mempromosikan tempat tersebut melalui media sosial. “Jika sudah punya ikonik alam atau ikonik wisata baru, maka bisa di-storytelling-kan melalui media sosial,” kata Hanung.






